Sabtu, 15 Desember 2012

Doa Tuk Palestine


  
Rasanya ingin berada disana                                              
Tapi aku juga takut seperti rasa takut mereka
Aku hanya bisa bersujud, mengharap dengan do’a -do’a yang tulus

Getir yang mereka dialami
Turut menyesakkan dada
Turut berduka merasakan perih dan sakit
karena air mata tlah membasahi wajah bahagia itu
cucuran darah yang kulihat disekujur tubuh tak kuasa menahan tangisku

Saudara-saudara kita tersungkur bersimpuh darah
Bahkan anak-anak lugu dan tak berdosa
Turut dihujam peluru dan terluka
Mereka menangis meronta tak tahu arah kemana harus mencari
Terpisah dari keluarga serta orang-orang tersayang

Wahai saudaraku
Bersyukurlah pada Tuhan Mu yang masih melindungimu
Harapan-harapanmu yang tak tercapai
Tak seperti harapan duka di palestina


Mungkin kita juga sakit menderita
Dikala keinginan tak terkabulkan
Tapi palestina jauh lebih sakit dan perih
Melewati cobaan demi cobaan dari serangan Israel yang semakin memuncak

Sungguh Israel  tlah buta
Mereka tlah sesat dan jauh dari Tuhan
Sehingga begitu tega dan kejam memperlakukan saudara-saudara kita terjatuh
Bahkan sampai mati
Syahid saudara kita membawa ke Syurga
Sedang Israel tinggal menanti Murka dari Sang Maha

Ya Allah
Tiada daya dan upaya bagi kami
Hanya pada Mu segala permohonan terwujud
Lindungilah mereka
Sabarkanlah mereka dalam menghadapi cobaan Mu yang begitu berat ini
Berikanlah  azab Mu pada Israel


Selasa, 11 Desember 2012

Pelaminan Surga



Ya Allah bilakah jalan terbaik
Harus memisahkan kami
Maka Ikhlaskanlah kami
Untuk jauh sementara

Bilakah saat ini kami harus terluka
Maka tuntunlah kami agar
Menerima segala ingin Mu

Karena Engkaulah yang Maha Cinta
Sebaik rencana dan harapan yang kami susun
Semua kembali pada kehendak Mu

Ya Rabb
Bilakah perpisahan ini
Semakin menjadi kekuatan bagi kami
Maka tegarkanlah kami

Tenangkanlah hati kami dengan perpisahan ini
Izinkan kami menahan rasa
Dan tetap setia sampai batas waktu yang kau Takdirkan

Jadikanlah kami sepasang kekasih
Yang halal
Dan mulia abadi
Di pelaminan Surga Mu



Senin, 10 Desember 2012

Surat Cinta Bunda untuk Dinda


Aku terlalu sering tak mendengarkan setiap kali bunda memberi nasehat untukku. Aku tak tahu mengapa aku seperti ini. Usia demi usia yang kulewati membuatku semakin sadar dengan segala perilaku dan sikapku pada bunda. Betapa Ia sangat takut kehilanganku.
 Terkadang aku merasa terganggu setiap kali bunda menanyakan kabar yang detail saat aku sedang melakukan aktivitas diluar. Tapi seperti itulah bunda yang kukenal. Ia begitu mengkhawatirkanku. Anak seperti apa aku ini.
“Assalammu’alaikum, sudah pulang Nak, mana salamnya.”
“ hehhe, eh oh iya lupa bun….”.sahutku sambil tertawa
Baru saja berjalan dua, tiga langkah kedalam, eh suara Bunda udah terdengar..
Tampak Bunda sedari tadi menungguku untuk makan siang bersama. Belum lagi sempat meletakkan tas, semua pertanyaan sudah melintas ditelingaku.
“Apa kegiatan tadi Nak?, pasti capek kan, ayo cepat ganti baju sana, setelah itu kita makan yah”…
“hmmmp, nanti saja Bund, dinda masih capek mau istirahat sebentar.”  Sahutku.
“Ini sudah waktunya makan siang Nak”. Ucap Bunda lagi.
Dengan lembutnya Bunda menasehatiku. Walau terdengar sedikit cerewet, Bunda begitu tulus memberikan kasih sayangnya padaku.
            Selama ini aku tidak pernah berfikir, seperti apa Bunda mengkhawatirkan keadaanku. Setiap kali aku melakukan aktivitas diluar, Bunda selalu menanyakan kabarku. Sedang apa, lagi dimana, dan jam berapa aku pulang.  Bagaimana mungkin aku bisa mandiri tanpa Bunda??
            Sejak SD, Bunda sudah membimbingku hingga aku kuliah sekarang, rasanya aku belum bisa mengerjakan apa-apa seorang diri. Bahkan sarapan saja, masih Bunda yang harus menyiapkannya.
“ Ya Allah, ampunilah aku,yang selama ini terlalu sering membantah kata-kata Bunda, aku sering menyinggung perasaannya, padahal begitu besarnya pengorbanan beliau, belum ada sedikitpun balasan yang bisa kuberikan untuknya” Ucapku dalam hati.
Sesekali aku menyendiri, terdiam di sudut kamar, hening, saat Ibu beranjak Istirahat, aku membayangkan betapa Bunda sudah terlihat semakin tua, dan tidak seharusnya Ia masih mengurusku setiap harinya, kadang aku tak pernah menyadari, bahwa Bunda yang kumiliki adalah Bunda yang selalu menghangatkanku dalam dekapannya, yang selalu membelai rambut dalam tidurku, saat ini aku masih diperlakukan Bunda seperti aku masih kecil dulu. Padahal usiaku sudah menginjak dua puluh tahun. Rasanya aku malu pada diriku.
            Dua Minggu yang lalu aku mengikuti kegiatan IMPALA (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam), aku tinggalkan Bunda seorang diri dirumah. Bunda sudah terbiasa sendiri, semenjak kepergian Ayah tujuh tahun yang lalu. Tapi aku merasa tak setia, karena tak bisa selalu menemaninya setiap hari, aku malah lebih mementingkan kegiatanku dari pada menemani Bunda dirumah. Selama dua hari aku tinggal  di bumi perkemahan bersama anggota dan teman-teman IMPALA. Dua hari saja rasanya seperti satu minggu, aku tak mendengar nasehatnya, ketika menanyakan apa kesibukanku hari ini, aku sudah makan atau belum. Perhatian bunda yang selalu mengingatkanku. Ya begitu rindunya aku dengan dekapan hangat dan lembut dari Bunda.
Aku tak bisa memberikan kabar untuk bunda, karena didaerah hutan sangat sulit ditemukan signal yang bagus. Battery handphoneku juga lowbet, aku hanya bisa berdo’a semoga Allah menjaga bunda disana.
            Dua hari pun berlalu.. Rasa rinduku ingin sekali segera terobati, melihat senyum manis bunda, dan sapaan lembut darinya, setiba dirumah aku bergegas masuk dan tak lupa mengucapkan salam. Siang itu aneh rasanya, tak kudengar suara bunda yang biasanya sudah terlintas ditelinga. Aku terus melangkah kearah kamar bunda. Siapa tahu bunda sedang istirahat.
Creeekkkk….?? Ku buka pintu kamar bundaa. Kulihat yang ada hanya selimut dan bantal yang tertata rapi.
 Aku heran., karena tidak seperti biasanya bunda tak memberiku kabar. Biasanya bunda selalu menuliskan note kecil saat-saat Ia pergi mendadak, ataupun menitipkan pesan pada tetangga.
            Mungkin bunda pergi menghantarkan pesanan kue. Dugaanku. Sanking capeknya, aku menutup kembali kamar bunda,  lalu pergi istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek selama dua hari berpetualang, rasanya badanku remuk.
Setengah jam kemudian aku temukan selembar kertas diatas meja riasku. Ku buka perlahan kertas itu dari lipatannya. Ada tulisan didalamnya. Kemudian aku pun membacanya.
Assalammu’alaikum dinda
Anak bunda yang manis, yang tegar dan mandiri, juga yang selalu ingat pesan bunda. Mungkin saat dinda membaca surat ini, bunda sudah tiada dirumah. Bunda ingin segera menyusul ayahmu disurga.
Dindaa….usia dinda sekarang semakin berkurang dan menginjak dua puluh tahun sudah. Dinda semakin dewasa. Meskipun kita pernah hidup tanpa ayah, tapi bunda bahagia, bisa membesarkan dinda serta membimbing dinda hingga dinda sekarang bisa melanjutkan kuliah. Bunda sangat merindukan ayah. Bunda ingin bertemu dengan ayah.
 Usia bunda semakin tua nak, bunda juga sudah mulai letih melakukan pekerjaan yang biasa bunda lakukan setiap harinya. Bundai ingin istirahat. Bunda berharap dinda bisa mandiri dari sebelumnya. Bunda yakin dinda bisa melakukannya tanpa bunda. Menjalani hari-hari tanpa bunda. Bunda akan selalu do’akan yang terbaik buat dinda. Maka…ingatlah pesan bunda selalu ya nak.:)
Jangan pernah lupa dengan kewajiban kita sebagai seorang muslim, untuk mendirikan sholat lima waktunya. Dindaaa?.... jadilah anak yang baik, anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa serta bermanfaat untuk orang-orang disekeliling.
Dinda, jangan telat makan ya nak, jaga kesehatan supaya dinda tetap kuat dan bisa menjalani aktivitas kuliah dengan baik. Jadilah anak bunda yang berkarya dan berguna untuk siapapun. Bunda sangat yakin dinda pasti bisa melangkah lebih baik dari hari ini. Masa depan sedang menanti dinda disana. Jangan putus asa dan tetap semangat..
Jauhilah kesombongan hidup yang bisa merusak jiwa dinda. Belajarlah dari apa yang pernah bunda ajarkan untuk dinda. Bunda yang juga selalu ajarkan dinda agar tetap kuat dan tegar seberat apapun cobaan menghadang. Yakin saja pada Allah, bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada keindahannya.
Dindaa?…simpan pesan ini baik-baik ya nak. Hapuslah air mata dinda yang sudah membasahi kertas ini. Jangan sesali apa yang belum bisa dinda perbuat untuk bunda. Bunda sayang dinda. Bunda ikhlas dan tulus merawat dinda agar menjadi anak yang sukses.
 Semua kesalahan dinda sudah bunda maafkan, setiap nasehat bunda yang dinda langgar. Setiap kata bunda yang dinda bantah dan setiap permintaan yang dinda paksa, semuanya sudah ikhlas bunda maafkan lahir dan bathin, karena bunda cinta dan sayang pada dinda. Sekarang hanya dinda satu-satunya harta yang sangat berharga dalam hidup bunda.
Di  akhir kata ini, bunda ingin melihat dinda tersenyum. Dengan senyum dinda, sudah cukup membuat bunda bahagia disana. Kelak, dinda juga akan menjadi seperti apa yang bunda rasakan. Menjadi seorang bunda. I love u dinda. Sampai ketemua disana ya Nak.:) wassalammu’alaikum.
Aku pun tersentak dari tidurku. Serasa pulas dan nyenyak sekali. Tiba-tiba aku menjerit.
“Tidaaaaakkkk!!...bundaaaaaa!! jangan pergiii…bunda! Tungguuuuuu.”
Aku terbangun mengelus dada seraya mengucap istighfar dan bergegas keluar mencari bunda. Sesampai didepan pintu. Aku lega dan kembali tersenyum. Ternyata aku mimpi. Ya. Aku hanya mimpi menerima pesan cinta dari bunda  lewat mimpi. Cerita bunda didalam mimpi itu membangunkan tidurku yang sangat lelap.
“ Astaghfirullah, ya Allah ampunilah aku, maafkan semua kesalahanku. Engkau beri bunga tidur  untukku. Sehingga menyadarkanku. Ya Rabb, jangan Kau ambil bunda sebelum aku mampu membahagiakannya. Aku sangat menyayangi bunda”. Do’aku dalam hati sambil melihat bunda yang sedang sibuk menyiram bunga di halaman.
Lalu kupeluk bunda dari belakang. Bunda  terkejut tiba-tiba aku memeluknya dan mengatakan,
“Bunda,I love u, dinda cinta bunda, dinda sayaaaaang banget sama bunda, jangan tinggalin dinda yah bund……”. Ucapku sambil memeluk bunda
Kemudian aku mencium pipi bunda, dan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku selama ini, yang mungkin membuat hati bunda terluka, tak kusadari air mataku pun mengalir. Kutatap bunda dengan penuh kasih sayang. Mata bunda juga berbinar menatapku. Bunda pun kembali memelukku dan menghapus air mataku. Meskipun aku tahu, sore itu bunda tampak bingung apa yang sedang aku lakukan padanya, tiba-tiba saja aku memanggil dan memeluknya.
Setelah itu aku menceritakan soal mimpi yang ku dapatkan tadi. Bunda sangat faham dengan ceritaku dalam mimpi itu. Kata bunda itu hanya bunga tidur. Dan peringatan dari Allah agar aku menjadi yang lebih baik dari ini.
Aku sadar selama ini sering bersikap kasar pada bunda, aku sering melanggar nasehat-nasehatnya. Rasanya aku terlalu sering membuatnya kecewa dan kesal. Meski begitu yang aku lakukan pada bunda, tapi bunda tetap sabar menghadapiku. Aku ingin merubah diri dan belajar mandiri untuk meringankan beban bunda selama ini. Aku ingin berubah menjadi lebih baik. Pesan dalam mimpi itu ternyata membuatku sadar betapa sayangnya bunda takkan pernah terbalas oleh apapun dan surga itu berada dibawah telapak kaki seorang ibu.
“Bunda, maafin dinda yah…..dinda janji akan merubah diri ini menjadi lebih baik lagi, tapi bunda juga janji jangan tinggalin dinda ya…”
“ iya Nak, dinda kan mutiara hati bunda”……

Minggu, 25 November 2012



Guruku


Tak pernah sedikitpun engkau mengeluh
Betapa besar pengorbanan yang telah mengalir dalam diri kami
Sehingga kami berilmu
Engkau begitu mulia

Senyummu, selalu bersinar membawaa kisah tentang perjuangan
Mengajari ketidaktahuan untuk kami
Keringatmu
Bagai bilur embun disetiap pagi
Tak lelah dirasa
Tak terlihat susah dan jerih payah mendidik kami

Banyak kesan tentangmu
Guruku..
Cukup dengan syair ini
Kami ucapkan terima kasih masih bersama
Betapa kami bangga denganmu
Pengorbananmu harum semerbak di sanubariku


Senin, 12 November 2012

Sajadah Cinta Suamiku

Malam ini adalah malam pertemuanku dengan calon suami pilihan Ayah. Lelaki tersebut dijamin bisa menghidupiku dengan harta wah yang dimilikinya. Ayah akan menjodohkanku dengan duda kaya raya seorang pengusaha dan pemilik salah satu hotel berbintang. Aku hanya bisa memohon petunjuk Allah semoga dengan keputusanku nanti aku bisa hidup bahagia bersama lelaki pilihan Ayah. Mungkin ini sudah menjadi suratan untukku. Sejak awal aku menjalin hubungan dengan Mas Habib, Ayah tak pernah merestui hubungan kami. Hanya karena Mas Habib seorang sarjana Pendidikan Agama Islam, seorang guru honor, dan anak rantauan yang juga tak begitu jelas tentang latar  belakang Mas Habib dan keluarganya.
Aku cukup mengenal Mas Habib yang sangat tulus mencintaiku. Mungkin harapan dan cita-cita kami untuk hidup bersama akan sirna. Aku tahu bahwa cinta memang tak harus memiliki. Tapi untuk mempertahankan perasaan ini begitu sulit. Sulit bagiku untuk melupakan perjalanan cintaku bersama Mas Habib yang kurang lebih sudah dua  tahun kami saling mengenal satu sama lain.
“ Aisyah!”. Panggil Ayah  dari depan ruang tamu. Aku hanya diam dikamar dan terus menangis serta memohon petunjuk pada Allah.
“ Aisyah!”. Panggil ayah lagi.
“ Iya Ayah,sebentar”. sahutku
Aku pun bergegas keluar menemui Ayah. Demi kebahagiaan Ayah, aku berusaha merelakan perasaanku untuk melepas Mas Habib. Tidak ada basa-basi keluarga malam itu. Ayah langsung menentukan tanggal pernikahanku dengan Mas Helmi. Aku terus menahan air mata dan berusaha memberi senyuman untuk Ayah. Karena aku tak ingin penyakit Asma Ayah kambuh. Aku tak lagi ingin kehilangan orang yang kusayangi setelah sepuluh tahun yang lalu aku harus menerima kenyataan bahwa Bunda  pergi untuk selama-lamanya.
Dan pagi ini adalah hari pernikahanku. Aku hanya mencurahkan segala perasaanku kepada Allah. Dengan mengucap Bismillah saat akad pernikahan berlangsung, air mataku menetes, dan tiba-tiba datang dua orang Polisi yang menghentikan suasana  pernikahan. Polisi tersebut menemui Mas Helmi dan memborgolnya serta membawanya pergi. Ternyata Mas Helmi adalah seorang buronan polisi sejak lima bulan yang lalu tercatat sebagai tersangka penggelapan uang dan menipu rekan kerjanya sendiri. Suasana saat itu menjadi tegang dan carut marut. Aku sangat bersyukur karna Allah memberi petunjuk untukku. Aku menangis dipelukan Ayah. Ayah  meminta maaf padaku dan akhirnya Ia pun merestui hubunganku dengan Mas Habib.
Kebetulan sekali Mas Habib hadir saat pernikahanku akan berlangsung. Ayah pun mempersilahkan Mas Habib sebagai calon mempelai pria dan segera melaksanakan Ijab Qabul pernikahan pada hari itu juga. Ayah pun bahagia melihatku tersenyum dengan Ikhlas. Aku menangis saat akan mencium dan memeluk Mas Habib yang sudah sah menjadi suamiku. Aku bersyukur dengan Anugrah terindah ini. Aku berharap semoga aku dan Mas Habib bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Setelah sekian lama menunggu Alhamdulillah Allah menitipkan janin didalam perutku, yang akan menjadi bayi dalam waktu sembilan bulan. Penantian yang cukup panjang bagi kami. Ini adalah Anugrah yang terindah. Aku yang lemah fisik ternyata masih diberi kepercayaan oleh Nya untuk merawat janin dalam perutku agar terlahir  sehat nantinya.
“ Assalammu’alaikum, Aisyah”. Ucap Mas Habib
“ Wa’alaikumsalam  Mas, sudah pulang ya??”. Sembari kusalami Mas Habib yang baru pulang kerja dan kubawakan tasnya kedalam kamar serta mempersiapkan handuk untuknya.
“ Iya Aisyahku, rasanya Mas ingin cepat ketemu kamu, bawaannya kangeeeen terus, apalagi sekarang kamu sedang mengandug anak kita”. Gombal Mas Habib sebagai suami yang romantis.
“ Ya Ampun Mas ada-ada saja, kita kan sudah suami istri, setiap hari jumpa, seperti masih pacaran saja”. Jawabku meledek Mas Habib.
Setelah mandi, aku menyiapkan teh hangat untuk Mas Habib.
        “ Ini tehnya Mas, mumpung masih hangat”.
        “ Makasih ya sayang, rasa teh ini enak dan manis seperti yang membuatnya”. Gombalnya lagi
        “ hehehe, Mas  bisa saja, memang deh mas adalah suami  yang paling romantis dan supergombal”. Jawabku sambil tertawa ngeledek.
        Adzan yang berkumandang sore itu, mengakhiri perbincangan kami untuk segera melaksanakan sholat berjama’ah dirumah. Seperti itulah keadaan kami setiap harinya. Hidup penuh kesederhanaan dan mendalami syari’at Islam tentang kedamaian sebuah keluarga. Mas Habib yang kukenal sejak dulu, memang begitulah adanya. Ia berusaha membuatku tersenyum dan tertawa dengan candaan dan tawanya yang tak pernah lepas dari ajaran Islam. Mas Habib memiliki prinsip untuk bisa menjadi seorang suami yang membimbing istri serta menjadi sahabat saat duka dan bahagia mengarungi kehidupan rumah tangga kami. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti Mas Habib.
        Semakin lama perutku tampak semakin besar. Aku sudah tak sabar menunggu lahirnya sibuah hati. Mas Habib tak pernah lupa untuk selalu melantunkan sholawat di setiap malam. Ia mengelus-elus perutku seraya memberikan do’a untuk sang buah hati agar lahir dengan sehat dan selamat. Ia berharap kelak putra atau putrinya lahir menjadi seorang anak yang  sholeh dan sholehah dan berguna untuk bangsa, Negara dan Agama serta berbakti kepada kedua orangtuanya. Tinggal menghitung hari saja tak sabar menunggu kelahiran sang bayi. Malam itu aku dan Mas Habib terus bercengkrama membahas saat-saat kelahiran sang bayi sebentar lagi tiba. Ntah mengapa malam itu rasanya penuh keharmonisan diantara kami menanti sang bayi. Hingga tak disadari waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh. Dan tepat jam 03.30 dini hari itu usiaku genap 24 tahun, delapan bulan lebih sudah usia kandunganku dan dua tahun sudah usia pernikahanku dengan Mas Habib. Aku pun bergegas menyiapkan perlengkapan untuk sholat berjama’ah. Perasaanku pagi ini begitu bahagia. Beberapa hari lagi aku akan menjadi seorang Ibu.
        “ Sayangku, selamat hari kelahiran ya, maaf bila selama ini kamu masih belum bahagia hidup bersama mas, mas harap kamu tetap menjadi Aisyah dan istri yang solehah untuk keluarga kecil kita”. Ucapnya padaku selagi menunggu azan subuh.
        “ Iya Mas terima kasih untuk ucapannya, Aisyah bahagia kok bisa menjadi istri buat Mas, Mas  adalah Imam yang bertanggung jawab dengan keluarga, yang selalu membimbing Aisyah”. Jawabku sambil memeluknya.

        Dan ntah kenapa air mataku tiba-tiba menetes seakan tak ingin jauh dari Mas Habib dan ingin terus berada disampingnya selamanya. Adzan subuh berkumandang, kami pun segera melaksanakan subuh berjama’ah. Saat akan menyelesaikan raka’at kedua, hingga hampir lima menit, Mas Habib tak juga bangkit dari sujudnya. Kutunggu beberapa menit lagi, Mas Habib tak juga bangkit dari sujudnya, lalu aku menyelesaikan sendiri tasyahud terakhirku sembari salam. Mas Habib yang hanya diam saat sujud terakhir itu. Kulihat Ia tetap bersujud dan tak juga terdengar suara-suara bacaan sujudnya.
        “ Ya Rabb ada apa ini?”. fikirku. Aku panik dan bingung. Ku panggil Mas Habib berulang kali. Tapi Ia hanya diam. Lalu kucoba untuk mendekatinya mungkin saja Ia masih khusyuk bersujud dan berdo’a.
        “ Mas, Mas, Mas Habib kenapa,? bangun Mas, ada apa Mas?”.
        Panggilanku tak juga dijawab olehnya. Aku pun mendekat dan semakin mendekat, Mas Habib tampak begitu kaku. Lalu kubalikkan saja wajahnya dari sujud itu, dan ternyata nafas Mas Habib tlah terhenti…………..Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
        Aku berteriak histeris melihat Mas Habib. Ia pun kupeluk dan berusaha untuk membangunkannya kembali. Tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tiada. Allah telah memanggilnya kembali.
        “Mas? Mas Habiiiiiiiiiib????, bangun Mas, jangan pergi, jangan tinggalin Aisyah sendiri, lalu bagaimana dengan anak kita Mas, bangun Mas, jangan ting….nggall…llin Aisyah Mas”. Aku lemas dan tak berdaya melihat semua ini. Aku tak percaya menyaksikan ini didepan mataku. Orang yang aku sayangi dan cintai kini tlah tiada.
        “ Ya Allah, begitu beratkah ujianMu ini, aku masih mengandung seorang bayi dalam perutku yang nantinya sangat membutuhkan seorang ayah. Bagaimana hidupku nanti bila tanpa suami dan bagaimana anak ini nanti bila tanpa Ayah, ya Allah ya Raaaabbbb, kenapa semua ini terjadi padaku”.
        Aku bergegas memberitahu pada Ayah, dan seketika itu ayah datang menemuiku. Aku pun memeluk Ayah, aku tak sanggup dan terus menangis melihat jenazah Mas Habib. Indahnya rumah tangga baru saja kulalui. Kini duka tlah menimpaku. Aku tak percaya Mas Habib akan pergi meninggalkanku secepat ini. Tepat dihari ulang tahunku Mas Habib pergi meninggalkanku dengan hadiah terindah yang pernah dijanjikannya untukku. Seperangkat alat sholat berupa mukenah beserta sajadah hijau yang kusediakan untuk dipakainya sholat, ternyata Ia pergi dengan khusnul khotimah diatas sajadah pemberiannya. Sajadah yang menjadi saksi cinta kami sehidup semati, aku berjanji akan merawat dan menjaga anakku sebagaimana pesan Mas Habib malam itu. Aku berharap bisa bertemu kembali dengan Mas Habib diakhirat kelak.
        Ayah berusaha menenangkanku untuk beristighfar menerima semua ini. Bahwa ini adalah takdir dan suratan. Tiada yang tahu sekalipun kapan ajal akan menjemput. Aku harus Ikhlas dan berusaha bangkit untuk hidup kembali demi anakku nanti.
“ Ya Allah, izinkan aku mendidik, menjaga serta membahagiakan anakku untuk menjadi anak yang soleh dan soleha, Ikhlaskan aku  untuk melepas kepergian suamiku tercinta agar Ia nyaman dan damai berada disisi Mu”.

 Selamat jalan suamiku. Aku selalu mencintai dan merindukanmu. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah cinta. Tanpa bisa aku bendung, airmata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah yang pernah Allah berikan padaku dalam bentuk dirimu, meski hanya sejenak aku merasakan kebahagiaan itu…
Duhai Suamiku...aku cinta kamu
selamat jalan

Jumat, 10 Agustus 2012



Dalam setiap Do’a

Terkadang aku sangat bahagia
Setiap do’a yang terjawab seketika
Aku percaya dan yakin saat itu

Tetapi ketika aku melihat kemesraan hatimu pada yang lain
Hatiku sakit bagai disayat
Bertahan duri dalam daging
Mampu ku obati dengan tulusnya cintaku

Sulit bagiku untuk menahan  cemburu yang sangat membakar dijiwa
Aku hanya bisa memohon ketegaran dan kekuatan pada Nya
Agar aku terjaga dari kegelisahan hati yang runyam

Jawaban terakhir hanya ada pada takdir Nya
Hanya Dia yang tahu bagaimana do’a dan harapan
Yang sangat berarti dalam hidupku
Dalam setiap do’a
Kupintakan pada Nya agar mimpi-mipi cintaku
berakhir bahagia dengan Ridho Nya


Selasa, 12 Juni 2012

Sekuntum Rindu Untuk Aa'



Siang itu aku keluar untuk membeli nasi bungkus  saat jam makan siang, berulang kali aku bertemu dengan lelaki tampan di sudut Mesjid.
“Mungkin dia penjaga Mesjid itu”. Fikirku.
Seringkali lelaki itu tersenyum padaku. Aku pun membalas keramahannya, meskipun aku tidak tahu persis siapa lelaki itu.
“ Ntahlah”. Fikirku. Aku tak mengenalnya.
Esok hari, kejadian yang sama terulang kembali. Aku memang orang baru dikantorku. Aku tak mengenal orang-orang disekitar kantor. Aku juga sering melaksanakan sholat Zhuhur di Masjid yang terletak di seberang kantor. Siang itu, selesai Sholat aku bergegas kembali ke kantor. Sesaat  berjalan dua, tiga langkah, terdengar suara lelaki memanggil-manggil. Sepertinya arah panggilan itu tertuju padaku.
“Neng!, Neng, tunggu!”. Panggil lelaki itu.
Aku heran, seperti samar-samar terdengar. Apakah yang dimaksud adalah aku. Aku pun mencoba menoleh kebelakang. Dan ternyata benar, lelaki itu menuju kepadaku dan menunjukkan sesuatu.
“ Assalammu’alaikum, maaf Neng, Apakah ini jam tangan milik eneng ?”.  tanyanya padaku.
Sambil ku lihat-lihat jelas jam tangan yang dimaksud. Upzz, ternyata benar jam tangan tersebut………..
“Wa’alaikumsalam ya benar, aduh maaf ya A’ sudah merepotkan,  itu jam tangan saya, saya meletakkannya di sudut dinding bak di kamar mandi tadi”.  Jawabku tersipu malu.
“ Heemmm, iya nggak apa-apa Neng, lain kali hati-hati ya Neng, dijaga atuh barangnya,  untungnya saya selalu menge-cek setiap selesai sholat, siapa tahu ada barang jama’ah yang tertinggal “. Sambil menyerahkan jam itu padaku
“ Iya A’, sekali lagi terima kasih, saya pamit mau balik ke kantor dulu ya”. Ucapku
“ Oh ya, maaf sebelumnya saya nggak pernah melihat eneng disini, hampir setiap hari belakangan ini saya lihat eneng keluar masuk kantor percetakan depan itu”.
“ Hmmm, saya orang baru A’. Kurang lebih dua Minggu saya baru bekerja disana”.
“ Oh, Pantas saja. Kalau begitu kenalkan nama saya Ahmad “. Dengan PD Nya lelaki itu memperkenalkan namanya seraya mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
Tanpa fikir panjang, sepertinya lelaki tersebut berniat baik, lagi pula dia sudah mengembalikan jam tanganku. Aku pun membalasnya.
“ Iya, saya Alya Shabira, panggil saja Aya”. sambil membalas uluran tangan darinya.
“ Subhanallah, nama yang cantik seperti orangnya” . Puji Lelaki itu.
Aku pun hanya tersenyum dan berpamitan untuk segera kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaanku. Hari yang tak pernah kuduga sebelumnya. Bertemu dengan seorang lelaki yang baik. Rasanya malu saat awal pertemuan itu harus berawal dari keteledoranku. Aku pun tersenyum seorang diri, sambil melanjutkan tugasku.
Hari ini,  ntah kenapa aku masih saja mengingat kejadian siang tadi. Wajahnya terus terbayang-bayang dalam fikiranku. Ternyata lelaki yang hampir setiap hari memergoki setiap gerik-gerikku keluar masuk kantor adalah seorang penjaga Masjid yang baik juga ramah
**
Nggak terasa, sudah dua bulan aku mengenal Aa’ Ahmad. Hari-hariku tampak jauh lebih baik dari biasanya. Setiap kali aku bertemu dengannya jantungku berdegup kencang. Perasaanku semakin gemetar dan bertanya-tanya.
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku”. tanyaku dalam hati
Aku membalas segala perhatian yang diberikan  Aa’ Ahmad untukku. Ibadahku juga semakin rajin. Pertemuanku dengan Aa’ Ahmad berdampak positif untukku. Hari-hariku menjadi semakin semangat dan ceria menjalani aktivitas, walaupun sebenarnya sudah sangat melelahkan.
“Ya Rabb….apa aku ini sedang jatuh cinta??”
Sore itu Aa’ Ahmad bercerita padaku. Aku semakin yakin dia adalah orang yang baik, dewasa, mandiri dan calon Imam yang baik. Aa’ Ahmad banyak bercerita tentang diri dan keluarganya. Lima bulan yang lalu dia baru saja menyelesaikan program studi S-1 nya, Sarjana Pendidikan Islam. Dan Alhamdulillah Ia juga baru diterima sebagai guru honor disalah satu Perguruan Swasta tak jauh dari kantorku. Dia  adalah orang perantauan. Sejak awal kuliahnya Ia tinggal di Masjid. Itung-itung amal jadi penjaga Masjid sekaligus latihan untuk membiasakan diri setiap lima waktu mengumandangkan adzan dan membersihkan Masjid, katanya.
Aku salut mendengar kegigihannya, meskipun jauh dari orang tua, Ia tetap semangat menuntut ilmu. Hingga pada akhirnya Allah memberikan rezeki untuknya, walaupun masih honor, katanya untuk mencari biaya supaya bisa melanjutkan program S-2. Jelasnya padaku.
“ Subhanallah”. aku terus memujinya, aku salut ternyata Allah mempertemukanku dengan orang sebaik Aa’ Ahmad. Ucapku dalam hati.


**
Waktu terus berjalan, hubunganku dengan Aa’ Ahmad semakin baik, tampaknya Ia ingin serius menjalin hubungan denganku dan keluarga. Usia pertemuan kami sudah hampir lima bulan. Kami sudah saling mengenal satu sama lain, sehingga sangat begitu meyakinkanku bahwa Aa’ Ahmad adalah orang yang tepat yang dititipkan Allah untukku. Tapi siang itu, aku harus menerima kenyataan yang sangat tidak aku harapkan, sehingga membuatku harus  rela dan ikhlas menerima keputusan itu. Tak terfikirkan sebelumnya, bahwa semua ini harus terjadi.
“ Neng, sebelumnya saya minta maaf, saya nggak tahu harus bagaimana, semua ini demi keluarga. saya harus melakukannya sebagai hutang budi. Mau tidak mau saya harus menyetujui persyaratan tersebut untuk segera menikahi anak dari Saudagar kaya dikampung yang dulu pernah membantu alm. Ayah untuk kehidupan kami, mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir, saya harap Eneng bisa memaklumi keputusan ini, tidak ada keputusan lain yang harus saya ambil, mungkin ini sudah sebaik-baik keputusan dari ketetapan Allah untuk kita, atau Eneng nantinya bisa menemukan yang lebih baik dari saya dan yang lebih pantas buat Eneng”. Jelas Aa’ Ahmad padaku
Aku hanya diam membisu. Dan tak mampu berkata. Air mata pun langsung menetes diwajahku. Rasanya tak sanggup harus merelakan semua secepat ini. Aku hanya bisa berdo’a dan memohon keikhlasan pada Sang Maha Cinta, agar senantiasa menenangkan jiwaku yang larut dalam kekecewaan karena tak sanggup menghadapi kenyataan yang harus aku hadapi. Aku sudah terlanjur mencintai Aa’ Ahmad dengan penuh ketulusanku. Rasanya aku tak sanggup akan menjalani hari-hariku tanpa Aa’ Ahmad. Mungkinkah ini takdir Tuhan untuk kisah cintaku. Mungkinkah aku akan menemukan lelaki seperti Aa’ Ahmad suatu hari nanti? Aku hanya bisa berdo’a memohon ketegaran dari kelukaan yang kuhadapi saat ini.
“ Ya Rabb, tolonglah hamba Mu ini, berilah kekuatan untukku, serta ketegaran dan keIkhlasan tuk menghadapi apa yang sedang terjadi, aku hanyalah hamba Mu yang lemah, berilah ketabahan untukku agar aku Ridho melepas orang yang aku cintai, semata-mata karena Mu. Bilakah memang harus dengan jalan ini Engkau pisahkan kami, Maka biarlah kami tetap menjalin ukhuwah persaudaraan nantinya, aku hanya bisa berdo’a dan berharap semoga ini jalan yang terbaik. Atau jika perpisahan ini adalah cobaan agar kami jauh dari perkara yang tidak baik, maka pertemukanlah kami kembali menjadi sepasang kekasih yang halal karena Mu. Karena hanya Engkaulah Yang Maha Cinta dan Maha Segalanya. Hamba yakin dan percaya bahwa apa yang Kau Kehendaki maka akan terjadi dan terjadilah”. Amiin
Hari itu adalah pertemuan terakhirku dengan Aa’ Ahmad. Sakit rasanya untuk menjalani hari-hari dengan kekecewaan ini. Aku terus berdo’a semoga Allah mengganti rasa sakit ini dengan kebahagiaan yang tiada tara suatu hari nanti.
Aku tak ingin rasa cinta ini membuatku lupa pada Yang Maha Cinta. Aku serahkan semua padaNya dengan kekuatan cinta dalam do’a pasti  akan terjawab dengan sebaik-baiknya.
***
Dua tahun sudah berlalu. Aku pun sudah menyelesaikan program Studi S-1 Sarjana Ekonomi dan Alhamdulillah aku juga sudah mendapatkan pekerjaan sebagai karyawati disalah satu Bank Swasta. Hari-hari yang kulalui sudah terbiasa tanpa kehadiran Aa’ Ahmad, setelah satu tahun yang lewat aku pernah merasakan kegalauan yang cukup berat. Meskipun sudah setahun, rasaku ini ternyata masih tetap setia untuk Aa’ Ahmad.
Dan semua rasa tiada dapat kupungkiri. Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri lebih dari kata-kata yang aku ucapkan. Ternyata aku semakin merasakan rasa rindu yang begitu dalam. Rindu dengan ucapan, nasehat dan
kehadiran Aa’ Ahmad. Aku berharap Allah segera memberikan pengobat rindu untukku. Kesetiannku tetap bertahan. Rinduku semakin membuatku lebih dekat pada Nya.  Mungkin Aa’ Ahmad sudah bahagia bersama orang lain, kebahagiaan yang seharusnya  menjadi mimpi terindah dalam hidupku.
            Sepulang sore itu, aku melewati Masjid, aku lihat ke arah Masjid dimana pertama kali aku pernah mengenal seorang lelaki disana, aku kembali  mengingat banyak hal disana. Berharap, Aa’Ahmad bertemu denganku saat ini, mungkin rasa rinduku akan terobati meskipun hanya melihat senyumnya saja.
            Kebetulan waktu Ashar sudah tiba. Aku pun segera menunaikan sholat Ashar  terlebih dahulu. Selesai sholat aku kembali merapihkan mukenah dan kulihat seperti ada orang dibelakangku. Mungkin hanya halusinasiku saja. Tetapi ntah kenapa, perasaan itu sangat meyakinkanku. Tiba-tiba datang dan berdiri seorang lelaki berteluk belanga dengan sarung dan lobe yang dipakainya seraya tersenyum padaku.
“ Aa’ Ahmad! “. tanyaku sambil terpelongo. Aku pun terdiam dan memandangi jelas-jelas siapa orang yang sedang dihadapanku itu.
“Benar, ini saya  Ahmad”. jawabnya sambil tersenyum
Aku masih belum yakin. Sekali lagi aku bertanya.
“ Benarkah, Aa’ Ahmad”. Tanyaku lagi.
“ Ya Neng Alya Shabiira. Saya Ahmad yang dulu pernah mengembalikan jam tangan milik gadis cantik disini”.  dengan tegas dan gombalnya Ia meyakinkanku.
Air mataku menetes kembali. Yah, aku menangis, juga bahagia. Aku tak tahu ini mimpi atau bukan. Tapi yang jelas Aa’ Ahmad menyebut nama lengkapku. Dan ternyata ini benar-benar bukan mimpi.
 “Ya Rabb,, mungkinkah ini rahasia terindah dari Mu???”
Ternyata ini adalah jawaban dari do’a-do’a yang selama ini aku harapkan pada Nya. Aa’ Ahmad telah kembali. Kembali untuk menjemput cintaku. Sekuntum Rindu yang selama ini aku tahan, ternyata hanya mampu terobati setelah aku bertemu dengannya.
Lalu Aa’menceritakan kembali tentang kepergiannya setahun yang lalu. Ia meminta maaf padaku karena kepergiannya dahulu sangat meyakinkanku dengan alasan yang sangat masuk akal.
Ternyata selama ini Ia hanya ingin jauh, jauh dari hal-hal buruk yang tak diinginkannya. Meskipun  waktu itu kami saling mencintai, tetapi keputusan itu sudah sangat matang direncanakannya karena semata-mata hanya ingin mendapat Ridho Allah didalam pernikahannya. Kepergiannya tidak lain adalah untuk mendalami Islam dan memperbaiki Cinta pada Allah. Cinta yang semata-mata hanya karena Allah. Hingga Ia benar-benar menemukan calon isteri yang tepat sebagai pendamping hidupnya.
            Kini Aa’ Ahmad datang menjemputku. Dan akan segera meminangku. Aku seperti tokoh utama dalam sebuah sinetron yang mendapatkan peran untuk menerima cinta dengan proses yang sangat menegangkan. Kiranya memang aku harus bahagia ketika Allah mempertemukanku dengan Aa’ Ahmad, kemudian aku harus menghadapi kenyataan mengikhlaskan Aa’ Ahmad menikah dengan orang lain. Dan ternyata semua itu adalah ujian terberat untuk perasaanku merelakan orang yang aku cintai semata-mata hanya karena Allah.
Dan Alhamdulillah, aku berhasil, aku lulus dalam ujian itu. Allah telah memberi nilai plus untukku setelah sekian lama menahan rasa rindu dan kesetiaan serta rasa cinta yang semakin dalam bersama do’a-do’a cinta. Rindu yang selama ini datang tak tentu arah, setiap waktu menghampiri untuk mengingat kenangan-kenangan yang pernah kulalui. Dan kini Allah memberikan kado spesial untukku dengan kebahagian yang berlipat ganda.
Inilah Anugrah yang dimaksud. Akhirnya Aku menemukan hidupku kembali. Pertemuan singkat antara aku dan  Aa’ Ahmad ternyata semakin  mendekatkan kami pada Allah.
Dan pagi ini. Pemuda yang memiliki nama lengkap Ahmad Mirza itu akan segera menikahi seorang gadis jelita bernama Alya Shabiira.
“ Sah! Sah!” .para saksi pun menjawab dengan bahagianya. Kemudian ku salami A’ Ahmad dan menghormatinya sebagai suami dan Imamku semoga dapat membina Bahtera rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Warrahmah. Aamiin
“ Saya Mencintai Eneng karena Allah, maaf untuk kekecewaan yang pernah saya lalukan”. ucap Aa’ Ahmad
            “Dan Aa’ adalah Sekuntum Rindu buat Eneng, semua ini adalah perjalanan cinta yang telah dituliskan Allah untuk kita A’”. jawabku kembali sambil memeluknya.



selesai....