Selasa, 12 Juni 2012

Sekuntum Rindu Untuk Aa'



Siang itu aku keluar untuk membeli nasi bungkus  saat jam makan siang, berulang kali aku bertemu dengan lelaki tampan di sudut Mesjid.
“Mungkin dia penjaga Mesjid itu”. Fikirku.
Seringkali lelaki itu tersenyum padaku. Aku pun membalas keramahannya, meskipun aku tidak tahu persis siapa lelaki itu.
“ Ntahlah”. Fikirku. Aku tak mengenalnya.
Esok hari, kejadian yang sama terulang kembali. Aku memang orang baru dikantorku. Aku tak mengenal orang-orang disekitar kantor. Aku juga sering melaksanakan sholat Zhuhur di Masjid yang terletak di seberang kantor. Siang itu, selesai Sholat aku bergegas kembali ke kantor. Sesaat  berjalan dua, tiga langkah, terdengar suara lelaki memanggil-manggil. Sepertinya arah panggilan itu tertuju padaku.
“Neng!, Neng, tunggu!”. Panggil lelaki itu.
Aku heran, seperti samar-samar terdengar. Apakah yang dimaksud adalah aku. Aku pun mencoba menoleh kebelakang. Dan ternyata benar, lelaki itu menuju kepadaku dan menunjukkan sesuatu.
“ Assalammu’alaikum, maaf Neng, Apakah ini jam tangan milik eneng ?”.  tanyanya padaku.
Sambil ku lihat-lihat jelas jam tangan yang dimaksud. Upzz, ternyata benar jam tangan tersebut………..
“Wa’alaikumsalam ya benar, aduh maaf ya A’ sudah merepotkan,  itu jam tangan saya, saya meletakkannya di sudut dinding bak di kamar mandi tadi”.  Jawabku tersipu malu.
“ Heemmm, iya nggak apa-apa Neng, lain kali hati-hati ya Neng, dijaga atuh barangnya,  untungnya saya selalu menge-cek setiap selesai sholat, siapa tahu ada barang jama’ah yang tertinggal “. Sambil menyerahkan jam itu padaku
“ Iya A’, sekali lagi terima kasih, saya pamit mau balik ke kantor dulu ya”. Ucapku
“ Oh ya, maaf sebelumnya saya nggak pernah melihat eneng disini, hampir setiap hari belakangan ini saya lihat eneng keluar masuk kantor percetakan depan itu”.
“ Hmmm, saya orang baru A’. Kurang lebih dua Minggu saya baru bekerja disana”.
“ Oh, Pantas saja. Kalau begitu kenalkan nama saya Ahmad “. Dengan PD Nya lelaki itu memperkenalkan namanya seraya mengulurkan tangan sebagai salam perkenalan.
Tanpa fikir panjang, sepertinya lelaki tersebut berniat baik, lagi pula dia sudah mengembalikan jam tanganku. Aku pun membalasnya.
“ Iya, saya Alya Shabira, panggil saja Aya”. sambil membalas uluran tangan darinya.
“ Subhanallah, nama yang cantik seperti orangnya” . Puji Lelaki itu.
Aku pun hanya tersenyum dan berpamitan untuk segera kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaanku. Hari yang tak pernah kuduga sebelumnya. Bertemu dengan seorang lelaki yang baik. Rasanya malu saat awal pertemuan itu harus berawal dari keteledoranku. Aku pun tersenyum seorang diri, sambil melanjutkan tugasku.
Hari ini,  ntah kenapa aku masih saja mengingat kejadian siang tadi. Wajahnya terus terbayang-bayang dalam fikiranku. Ternyata lelaki yang hampir setiap hari memergoki setiap gerik-gerikku keluar masuk kantor adalah seorang penjaga Masjid yang baik juga ramah
**
Nggak terasa, sudah dua bulan aku mengenal Aa’ Ahmad. Hari-hariku tampak jauh lebih baik dari biasanya. Setiap kali aku bertemu dengannya jantungku berdegup kencang. Perasaanku semakin gemetar dan bertanya-tanya.
“Apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku”. tanyaku dalam hati
Aku membalas segala perhatian yang diberikan  Aa’ Ahmad untukku. Ibadahku juga semakin rajin. Pertemuanku dengan Aa’ Ahmad berdampak positif untukku. Hari-hariku menjadi semakin semangat dan ceria menjalani aktivitas, walaupun sebenarnya sudah sangat melelahkan.
“Ya Rabb….apa aku ini sedang jatuh cinta??”
Sore itu Aa’ Ahmad bercerita padaku. Aku semakin yakin dia adalah orang yang baik, dewasa, mandiri dan calon Imam yang baik. Aa’ Ahmad banyak bercerita tentang diri dan keluarganya. Lima bulan yang lalu dia baru saja menyelesaikan program studi S-1 nya, Sarjana Pendidikan Islam. Dan Alhamdulillah Ia juga baru diterima sebagai guru honor disalah satu Perguruan Swasta tak jauh dari kantorku. Dia  adalah orang perantauan. Sejak awal kuliahnya Ia tinggal di Masjid. Itung-itung amal jadi penjaga Masjid sekaligus latihan untuk membiasakan diri setiap lima waktu mengumandangkan adzan dan membersihkan Masjid, katanya.
Aku salut mendengar kegigihannya, meskipun jauh dari orang tua, Ia tetap semangat menuntut ilmu. Hingga pada akhirnya Allah memberikan rezeki untuknya, walaupun masih honor, katanya untuk mencari biaya supaya bisa melanjutkan program S-2. Jelasnya padaku.
“ Subhanallah”. aku terus memujinya, aku salut ternyata Allah mempertemukanku dengan orang sebaik Aa’ Ahmad. Ucapku dalam hati.


**
Waktu terus berjalan, hubunganku dengan Aa’ Ahmad semakin baik, tampaknya Ia ingin serius menjalin hubungan denganku dan keluarga. Usia pertemuan kami sudah hampir lima bulan. Kami sudah saling mengenal satu sama lain, sehingga sangat begitu meyakinkanku bahwa Aa’ Ahmad adalah orang yang tepat yang dititipkan Allah untukku. Tapi siang itu, aku harus menerima kenyataan yang sangat tidak aku harapkan, sehingga membuatku harus  rela dan ikhlas menerima keputusan itu. Tak terfikirkan sebelumnya, bahwa semua ini harus terjadi.
“ Neng, sebelumnya saya minta maaf, saya nggak tahu harus bagaimana, semua ini demi keluarga. saya harus melakukannya sebagai hutang budi. Mau tidak mau saya harus menyetujui persyaratan tersebut untuk segera menikahi anak dari Saudagar kaya dikampung yang dulu pernah membantu alm. Ayah untuk kehidupan kami, mungkin ini adalah pertemuan kita yang terakhir, saya harap Eneng bisa memaklumi keputusan ini, tidak ada keputusan lain yang harus saya ambil, mungkin ini sudah sebaik-baik keputusan dari ketetapan Allah untuk kita, atau Eneng nantinya bisa menemukan yang lebih baik dari saya dan yang lebih pantas buat Eneng”. Jelas Aa’ Ahmad padaku
Aku hanya diam membisu. Dan tak mampu berkata. Air mata pun langsung menetes diwajahku. Rasanya tak sanggup harus merelakan semua secepat ini. Aku hanya bisa berdo’a dan memohon keikhlasan pada Sang Maha Cinta, agar senantiasa menenangkan jiwaku yang larut dalam kekecewaan karena tak sanggup menghadapi kenyataan yang harus aku hadapi. Aku sudah terlanjur mencintai Aa’ Ahmad dengan penuh ketulusanku. Rasanya aku tak sanggup akan menjalani hari-hariku tanpa Aa’ Ahmad. Mungkinkah ini takdir Tuhan untuk kisah cintaku. Mungkinkah aku akan menemukan lelaki seperti Aa’ Ahmad suatu hari nanti? Aku hanya bisa berdo’a memohon ketegaran dari kelukaan yang kuhadapi saat ini.
“ Ya Rabb, tolonglah hamba Mu ini, berilah kekuatan untukku, serta ketegaran dan keIkhlasan tuk menghadapi apa yang sedang terjadi, aku hanyalah hamba Mu yang lemah, berilah ketabahan untukku agar aku Ridho melepas orang yang aku cintai, semata-mata karena Mu. Bilakah memang harus dengan jalan ini Engkau pisahkan kami, Maka biarlah kami tetap menjalin ukhuwah persaudaraan nantinya, aku hanya bisa berdo’a dan berharap semoga ini jalan yang terbaik. Atau jika perpisahan ini adalah cobaan agar kami jauh dari perkara yang tidak baik, maka pertemukanlah kami kembali menjadi sepasang kekasih yang halal karena Mu. Karena hanya Engkaulah Yang Maha Cinta dan Maha Segalanya. Hamba yakin dan percaya bahwa apa yang Kau Kehendaki maka akan terjadi dan terjadilah”. Amiin
Hari itu adalah pertemuan terakhirku dengan Aa’ Ahmad. Sakit rasanya untuk menjalani hari-hari dengan kekecewaan ini. Aku terus berdo’a semoga Allah mengganti rasa sakit ini dengan kebahagiaan yang tiada tara suatu hari nanti.
Aku tak ingin rasa cinta ini membuatku lupa pada Yang Maha Cinta. Aku serahkan semua padaNya dengan kekuatan cinta dalam do’a pasti  akan terjawab dengan sebaik-baiknya.
***
Dua tahun sudah berlalu. Aku pun sudah menyelesaikan program Studi S-1 Sarjana Ekonomi dan Alhamdulillah aku juga sudah mendapatkan pekerjaan sebagai karyawati disalah satu Bank Swasta. Hari-hari yang kulalui sudah terbiasa tanpa kehadiran Aa’ Ahmad, setelah satu tahun yang lewat aku pernah merasakan kegalauan yang cukup berat. Meskipun sudah setahun, rasaku ini ternyata masih tetap setia untuk Aa’ Ahmad.
Dan semua rasa tiada dapat kupungkiri. Aku tak bisa membohongi perasaanku sendiri lebih dari kata-kata yang aku ucapkan. Ternyata aku semakin merasakan rasa rindu yang begitu dalam. Rindu dengan ucapan, nasehat dan
kehadiran Aa’ Ahmad. Aku berharap Allah segera memberikan pengobat rindu untukku. Kesetiannku tetap bertahan. Rinduku semakin membuatku lebih dekat pada Nya.  Mungkin Aa’ Ahmad sudah bahagia bersama orang lain, kebahagiaan yang seharusnya  menjadi mimpi terindah dalam hidupku.
            Sepulang sore itu, aku melewati Masjid, aku lihat ke arah Masjid dimana pertama kali aku pernah mengenal seorang lelaki disana, aku kembali  mengingat banyak hal disana. Berharap, Aa’Ahmad bertemu denganku saat ini, mungkin rasa rinduku akan terobati meskipun hanya melihat senyumnya saja.
            Kebetulan waktu Ashar sudah tiba. Aku pun segera menunaikan sholat Ashar  terlebih dahulu. Selesai sholat aku kembali merapihkan mukenah dan kulihat seperti ada orang dibelakangku. Mungkin hanya halusinasiku saja. Tetapi ntah kenapa, perasaan itu sangat meyakinkanku. Tiba-tiba datang dan berdiri seorang lelaki berteluk belanga dengan sarung dan lobe yang dipakainya seraya tersenyum padaku.
“ Aa’ Ahmad! “. tanyaku sambil terpelongo. Aku pun terdiam dan memandangi jelas-jelas siapa orang yang sedang dihadapanku itu.
“Benar, ini saya  Ahmad”. jawabnya sambil tersenyum
Aku masih belum yakin. Sekali lagi aku bertanya.
“ Benarkah, Aa’ Ahmad”. Tanyaku lagi.
“ Ya Neng Alya Shabiira. Saya Ahmad yang dulu pernah mengembalikan jam tangan milik gadis cantik disini”.  dengan tegas dan gombalnya Ia meyakinkanku.
Air mataku menetes kembali. Yah, aku menangis, juga bahagia. Aku tak tahu ini mimpi atau bukan. Tapi yang jelas Aa’ Ahmad menyebut nama lengkapku. Dan ternyata ini benar-benar bukan mimpi.
 “Ya Rabb,, mungkinkah ini rahasia terindah dari Mu???”
Ternyata ini adalah jawaban dari do’a-do’a yang selama ini aku harapkan pada Nya. Aa’ Ahmad telah kembali. Kembali untuk menjemput cintaku. Sekuntum Rindu yang selama ini aku tahan, ternyata hanya mampu terobati setelah aku bertemu dengannya.
Lalu Aa’menceritakan kembali tentang kepergiannya setahun yang lalu. Ia meminta maaf padaku karena kepergiannya dahulu sangat meyakinkanku dengan alasan yang sangat masuk akal.
Ternyata selama ini Ia hanya ingin jauh, jauh dari hal-hal buruk yang tak diinginkannya. Meskipun  waktu itu kami saling mencintai, tetapi keputusan itu sudah sangat matang direncanakannya karena semata-mata hanya ingin mendapat Ridho Allah didalam pernikahannya. Kepergiannya tidak lain adalah untuk mendalami Islam dan memperbaiki Cinta pada Allah. Cinta yang semata-mata hanya karena Allah. Hingga Ia benar-benar menemukan calon isteri yang tepat sebagai pendamping hidupnya.
            Kini Aa’ Ahmad datang menjemputku. Dan akan segera meminangku. Aku seperti tokoh utama dalam sebuah sinetron yang mendapatkan peran untuk menerima cinta dengan proses yang sangat menegangkan. Kiranya memang aku harus bahagia ketika Allah mempertemukanku dengan Aa’ Ahmad, kemudian aku harus menghadapi kenyataan mengikhlaskan Aa’ Ahmad menikah dengan orang lain. Dan ternyata semua itu adalah ujian terberat untuk perasaanku merelakan orang yang aku cintai semata-mata hanya karena Allah.
Dan Alhamdulillah, aku berhasil, aku lulus dalam ujian itu. Allah telah memberi nilai plus untukku setelah sekian lama menahan rasa rindu dan kesetiaan serta rasa cinta yang semakin dalam bersama do’a-do’a cinta. Rindu yang selama ini datang tak tentu arah, setiap waktu menghampiri untuk mengingat kenangan-kenangan yang pernah kulalui. Dan kini Allah memberikan kado spesial untukku dengan kebahagian yang berlipat ganda.
Inilah Anugrah yang dimaksud. Akhirnya Aku menemukan hidupku kembali. Pertemuan singkat antara aku dan  Aa’ Ahmad ternyata semakin  mendekatkan kami pada Allah.
Dan pagi ini. Pemuda yang memiliki nama lengkap Ahmad Mirza itu akan segera menikahi seorang gadis jelita bernama Alya Shabiira.
“ Sah! Sah!” .para saksi pun menjawab dengan bahagianya. Kemudian ku salami A’ Ahmad dan menghormatinya sebagai suami dan Imamku semoga dapat membina Bahtera rumah tangga yang Sakinah Mawaddah Warrahmah. Aamiin
“ Saya Mencintai Eneng karena Allah, maaf untuk kekecewaan yang pernah saya lalukan”. ucap Aa’ Ahmad
            “Dan Aa’ adalah Sekuntum Rindu buat Eneng, semua ini adalah perjalanan cinta yang telah dituliskan Allah untuk kita A’”. jawabku kembali sambil memeluknya.



selesai....


Tidak ada komentar: