Sabtu, 15 Desember 2012

Doa Tuk Palestine


  
Rasanya ingin berada disana                                              
Tapi aku juga takut seperti rasa takut mereka
Aku hanya bisa bersujud, mengharap dengan do’a -do’a yang tulus

Getir yang mereka dialami
Turut menyesakkan dada
Turut berduka merasakan perih dan sakit
karena air mata tlah membasahi wajah bahagia itu
cucuran darah yang kulihat disekujur tubuh tak kuasa menahan tangisku

Saudara-saudara kita tersungkur bersimpuh darah
Bahkan anak-anak lugu dan tak berdosa
Turut dihujam peluru dan terluka
Mereka menangis meronta tak tahu arah kemana harus mencari
Terpisah dari keluarga serta orang-orang tersayang

Wahai saudaraku
Bersyukurlah pada Tuhan Mu yang masih melindungimu
Harapan-harapanmu yang tak tercapai
Tak seperti harapan duka di palestina


Mungkin kita juga sakit menderita
Dikala keinginan tak terkabulkan
Tapi palestina jauh lebih sakit dan perih
Melewati cobaan demi cobaan dari serangan Israel yang semakin memuncak

Sungguh Israel  tlah buta
Mereka tlah sesat dan jauh dari Tuhan
Sehingga begitu tega dan kejam memperlakukan saudara-saudara kita terjatuh
Bahkan sampai mati
Syahid saudara kita membawa ke Syurga
Sedang Israel tinggal menanti Murka dari Sang Maha

Ya Allah
Tiada daya dan upaya bagi kami
Hanya pada Mu segala permohonan terwujud
Lindungilah mereka
Sabarkanlah mereka dalam menghadapi cobaan Mu yang begitu berat ini
Berikanlah  azab Mu pada Israel


Selasa, 11 Desember 2012

Pelaminan Surga



Ya Allah bilakah jalan terbaik
Harus memisahkan kami
Maka Ikhlaskanlah kami
Untuk jauh sementara

Bilakah saat ini kami harus terluka
Maka tuntunlah kami agar
Menerima segala ingin Mu

Karena Engkaulah yang Maha Cinta
Sebaik rencana dan harapan yang kami susun
Semua kembali pada kehendak Mu

Ya Rabb
Bilakah perpisahan ini
Semakin menjadi kekuatan bagi kami
Maka tegarkanlah kami

Tenangkanlah hati kami dengan perpisahan ini
Izinkan kami menahan rasa
Dan tetap setia sampai batas waktu yang kau Takdirkan

Jadikanlah kami sepasang kekasih
Yang halal
Dan mulia abadi
Di pelaminan Surga Mu



Senin, 10 Desember 2012

Surat Cinta Bunda untuk Dinda


Aku terlalu sering tak mendengarkan setiap kali bunda memberi nasehat untukku. Aku tak tahu mengapa aku seperti ini. Usia demi usia yang kulewati membuatku semakin sadar dengan segala perilaku dan sikapku pada bunda. Betapa Ia sangat takut kehilanganku.
 Terkadang aku merasa terganggu setiap kali bunda menanyakan kabar yang detail saat aku sedang melakukan aktivitas diluar. Tapi seperti itulah bunda yang kukenal. Ia begitu mengkhawatirkanku. Anak seperti apa aku ini.
“Assalammu’alaikum, sudah pulang Nak, mana salamnya.”
“ hehhe, eh oh iya lupa bun….”.sahutku sambil tertawa
Baru saja berjalan dua, tiga langkah kedalam, eh suara Bunda udah terdengar..
Tampak Bunda sedari tadi menungguku untuk makan siang bersama. Belum lagi sempat meletakkan tas, semua pertanyaan sudah melintas ditelingaku.
“Apa kegiatan tadi Nak?, pasti capek kan, ayo cepat ganti baju sana, setelah itu kita makan yah”…
“hmmmp, nanti saja Bund, dinda masih capek mau istirahat sebentar.”  Sahutku.
“Ini sudah waktunya makan siang Nak”. Ucap Bunda lagi.
Dengan lembutnya Bunda menasehatiku. Walau terdengar sedikit cerewet, Bunda begitu tulus memberikan kasih sayangnya padaku.
            Selama ini aku tidak pernah berfikir, seperti apa Bunda mengkhawatirkan keadaanku. Setiap kali aku melakukan aktivitas diluar, Bunda selalu menanyakan kabarku. Sedang apa, lagi dimana, dan jam berapa aku pulang.  Bagaimana mungkin aku bisa mandiri tanpa Bunda??
            Sejak SD, Bunda sudah membimbingku hingga aku kuliah sekarang, rasanya aku belum bisa mengerjakan apa-apa seorang diri. Bahkan sarapan saja, masih Bunda yang harus menyiapkannya.
“ Ya Allah, ampunilah aku,yang selama ini terlalu sering membantah kata-kata Bunda, aku sering menyinggung perasaannya, padahal begitu besarnya pengorbanan beliau, belum ada sedikitpun balasan yang bisa kuberikan untuknya” Ucapku dalam hati.
Sesekali aku menyendiri, terdiam di sudut kamar, hening, saat Ibu beranjak Istirahat, aku membayangkan betapa Bunda sudah terlihat semakin tua, dan tidak seharusnya Ia masih mengurusku setiap harinya, kadang aku tak pernah menyadari, bahwa Bunda yang kumiliki adalah Bunda yang selalu menghangatkanku dalam dekapannya, yang selalu membelai rambut dalam tidurku, saat ini aku masih diperlakukan Bunda seperti aku masih kecil dulu. Padahal usiaku sudah menginjak dua puluh tahun. Rasanya aku malu pada diriku.
            Dua Minggu yang lalu aku mengikuti kegiatan IMPALA (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam), aku tinggalkan Bunda seorang diri dirumah. Bunda sudah terbiasa sendiri, semenjak kepergian Ayah tujuh tahun yang lalu. Tapi aku merasa tak setia, karena tak bisa selalu menemaninya setiap hari, aku malah lebih mementingkan kegiatanku dari pada menemani Bunda dirumah. Selama dua hari aku tinggal  di bumi perkemahan bersama anggota dan teman-teman IMPALA. Dua hari saja rasanya seperti satu minggu, aku tak mendengar nasehatnya, ketika menanyakan apa kesibukanku hari ini, aku sudah makan atau belum. Perhatian bunda yang selalu mengingatkanku. Ya begitu rindunya aku dengan dekapan hangat dan lembut dari Bunda.
Aku tak bisa memberikan kabar untuk bunda, karena didaerah hutan sangat sulit ditemukan signal yang bagus. Battery handphoneku juga lowbet, aku hanya bisa berdo’a semoga Allah menjaga bunda disana.
            Dua hari pun berlalu.. Rasa rinduku ingin sekali segera terobati, melihat senyum manis bunda, dan sapaan lembut darinya, setiba dirumah aku bergegas masuk dan tak lupa mengucapkan salam. Siang itu aneh rasanya, tak kudengar suara bunda yang biasanya sudah terlintas ditelinga. Aku terus melangkah kearah kamar bunda. Siapa tahu bunda sedang istirahat.
Creeekkkk….?? Ku buka pintu kamar bundaa. Kulihat yang ada hanya selimut dan bantal yang tertata rapi.
 Aku heran., karena tidak seperti biasanya bunda tak memberiku kabar. Biasanya bunda selalu menuliskan note kecil saat-saat Ia pergi mendadak, ataupun menitipkan pesan pada tetangga.
            Mungkin bunda pergi menghantarkan pesanan kue. Dugaanku. Sanking capeknya, aku menutup kembali kamar bunda,  lalu pergi istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek selama dua hari berpetualang, rasanya badanku remuk.
Setengah jam kemudian aku temukan selembar kertas diatas meja riasku. Ku buka perlahan kertas itu dari lipatannya. Ada tulisan didalamnya. Kemudian aku pun membacanya.
Assalammu’alaikum dinda
Anak bunda yang manis, yang tegar dan mandiri, juga yang selalu ingat pesan bunda. Mungkin saat dinda membaca surat ini, bunda sudah tiada dirumah. Bunda ingin segera menyusul ayahmu disurga.
Dindaa….usia dinda sekarang semakin berkurang dan menginjak dua puluh tahun sudah. Dinda semakin dewasa. Meskipun kita pernah hidup tanpa ayah, tapi bunda bahagia, bisa membesarkan dinda serta membimbing dinda hingga dinda sekarang bisa melanjutkan kuliah. Bunda sangat merindukan ayah. Bunda ingin bertemu dengan ayah.
 Usia bunda semakin tua nak, bunda juga sudah mulai letih melakukan pekerjaan yang biasa bunda lakukan setiap harinya. Bundai ingin istirahat. Bunda berharap dinda bisa mandiri dari sebelumnya. Bunda yakin dinda bisa melakukannya tanpa bunda. Menjalani hari-hari tanpa bunda. Bunda akan selalu do’akan yang terbaik buat dinda. Maka…ingatlah pesan bunda selalu ya nak.:)
Jangan pernah lupa dengan kewajiban kita sebagai seorang muslim, untuk mendirikan sholat lima waktunya. Dindaaa?.... jadilah anak yang baik, anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa serta bermanfaat untuk orang-orang disekeliling.
Dinda, jangan telat makan ya nak, jaga kesehatan supaya dinda tetap kuat dan bisa menjalani aktivitas kuliah dengan baik. Jadilah anak bunda yang berkarya dan berguna untuk siapapun. Bunda sangat yakin dinda pasti bisa melangkah lebih baik dari hari ini. Masa depan sedang menanti dinda disana. Jangan putus asa dan tetap semangat..
Jauhilah kesombongan hidup yang bisa merusak jiwa dinda. Belajarlah dari apa yang pernah bunda ajarkan untuk dinda. Bunda yang juga selalu ajarkan dinda agar tetap kuat dan tegar seberat apapun cobaan menghadang. Yakin saja pada Allah, bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada keindahannya.
Dindaa?…simpan pesan ini baik-baik ya nak. Hapuslah air mata dinda yang sudah membasahi kertas ini. Jangan sesali apa yang belum bisa dinda perbuat untuk bunda. Bunda sayang dinda. Bunda ikhlas dan tulus merawat dinda agar menjadi anak yang sukses.
 Semua kesalahan dinda sudah bunda maafkan, setiap nasehat bunda yang dinda langgar. Setiap kata bunda yang dinda bantah dan setiap permintaan yang dinda paksa, semuanya sudah ikhlas bunda maafkan lahir dan bathin, karena bunda cinta dan sayang pada dinda. Sekarang hanya dinda satu-satunya harta yang sangat berharga dalam hidup bunda.
Di  akhir kata ini, bunda ingin melihat dinda tersenyum. Dengan senyum dinda, sudah cukup membuat bunda bahagia disana. Kelak, dinda juga akan menjadi seperti apa yang bunda rasakan. Menjadi seorang bunda. I love u dinda. Sampai ketemua disana ya Nak.:) wassalammu’alaikum.
Aku pun tersentak dari tidurku. Serasa pulas dan nyenyak sekali. Tiba-tiba aku menjerit.
“Tidaaaaakkkk!!...bundaaaaaa!! jangan pergiii…bunda! Tungguuuuuu.”
Aku terbangun mengelus dada seraya mengucap istighfar dan bergegas keluar mencari bunda. Sesampai didepan pintu. Aku lega dan kembali tersenyum. Ternyata aku mimpi. Ya. Aku hanya mimpi menerima pesan cinta dari bunda  lewat mimpi. Cerita bunda didalam mimpi itu membangunkan tidurku yang sangat lelap.
“ Astaghfirullah, ya Allah ampunilah aku, maafkan semua kesalahanku. Engkau beri bunga tidur  untukku. Sehingga menyadarkanku. Ya Rabb, jangan Kau ambil bunda sebelum aku mampu membahagiakannya. Aku sangat menyayangi bunda”. Do’aku dalam hati sambil melihat bunda yang sedang sibuk menyiram bunga di halaman.
Lalu kupeluk bunda dari belakang. Bunda  terkejut tiba-tiba aku memeluknya dan mengatakan,
“Bunda,I love u, dinda cinta bunda, dinda sayaaaaang banget sama bunda, jangan tinggalin dinda yah bund……”. Ucapku sambil memeluk bunda
Kemudian aku mencium pipi bunda, dan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku selama ini, yang mungkin membuat hati bunda terluka, tak kusadari air mataku pun mengalir. Kutatap bunda dengan penuh kasih sayang. Mata bunda juga berbinar menatapku. Bunda pun kembali memelukku dan menghapus air mataku. Meskipun aku tahu, sore itu bunda tampak bingung apa yang sedang aku lakukan padanya, tiba-tiba saja aku memanggil dan memeluknya.
Setelah itu aku menceritakan soal mimpi yang ku dapatkan tadi. Bunda sangat faham dengan ceritaku dalam mimpi itu. Kata bunda itu hanya bunga tidur. Dan peringatan dari Allah agar aku menjadi yang lebih baik dari ini.
Aku sadar selama ini sering bersikap kasar pada bunda, aku sering melanggar nasehat-nasehatnya. Rasanya aku terlalu sering membuatnya kecewa dan kesal. Meski begitu yang aku lakukan pada bunda, tapi bunda tetap sabar menghadapiku. Aku ingin merubah diri dan belajar mandiri untuk meringankan beban bunda selama ini. Aku ingin berubah menjadi lebih baik. Pesan dalam mimpi itu ternyata membuatku sadar betapa sayangnya bunda takkan pernah terbalas oleh apapun dan surga itu berada dibawah telapak kaki seorang ibu.
“Bunda, maafin dinda yah…..dinda janji akan merubah diri ini menjadi lebih baik lagi, tapi bunda juga janji jangan tinggalin dinda ya…”
“ iya Nak, dinda kan mutiara hati bunda”……