Surat Cinta Bunda untuk Dinda
Aku terlalu sering tak mendengarkan setiap kali bunda memberi nasehat
untukku. Aku tak tahu mengapa aku seperti ini. Usia demi usia yang
kulewati membuatku semakin sadar dengan segala perilaku dan sikapku pada
bunda. Betapa Ia sangat takut kehilanganku.
Terkadang aku merasa
terganggu setiap kali bunda menanyakan kabar yang detail saat aku
sedang melakukan aktivitas diluar. Tapi seperti itulah bunda yang
kukenal. Ia begitu mengkhawatirkanku. Anak seperti apa aku ini.
“Assalammu’alaikum, sudah pulang Nak, mana salamnya.”
“ hehhe, eh oh iya lupa bun….”.sahutku sambil tertawa
Baru saja berjalan dua, tiga langkah kedalam, eh suara Bunda udah terdengar..
Tampak
Bunda sedari tadi menungguku untuk makan siang bersama. Belum lagi
sempat meletakkan tas, semua pertanyaan sudah melintas ditelingaku.
“Apa kegiatan tadi Nak?, pasti capek kan, ayo cepat ganti baju sana, setelah itu kita makan yah”…
“hmmmp, nanti saja Bund, dinda masih capek mau istirahat sebentar.” Sahutku.
“Ini sudah waktunya makan siang Nak”. Ucap Bunda lagi.
Dengan lembutnya Bunda menasehatiku. Walau terdengar sedikit cerewet, Bunda begitu tulus memberikan kasih sayangnya padaku.
Selama ini aku tidak pernah berfikir, seperti apa Bunda mengkhawatirkan
keadaanku. Setiap kali aku melakukan aktivitas diluar, Bunda selalu
menanyakan kabarku. Sedang apa, lagi dimana, dan jam berapa aku pulang.
Bagaimana mungkin aku bisa mandiri tanpa Bunda??
Sejak SD, Bunda sudah membimbingku hingga aku kuliah sekarang, rasanya
aku belum bisa mengerjakan apa-apa seorang diri. Bahkan sarapan saja,
masih Bunda yang harus menyiapkannya.
“ Ya Allah, ampunilah
aku,yang selama ini terlalu sering membantah kata-kata Bunda, aku sering
menyinggung perasaannya, padahal begitu besarnya pengorbanan beliau,
belum ada sedikitpun balasan yang bisa kuberikan untuknya” Ucapku dalam hati.
Sesekali
aku menyendiri, terdiam di sudut kamar, hening, saat Ibu beranjak
Istirahat, aku membayangkan betapa Bunda sudah terlihat semakin tua, dan
tidak seharusnya Ia masih mengurusku setiap harinya, kadang aku tak
pernah menyadari, bahwa Bunda yang kumiliki adalah Bunda yang selalu
menghangatkanku dalam dekapannya, yang selalu membelai rambut dalam
tidurku, saat ini aku masih diperlakukan Bunda seperti aku masih kecil
dulu. Padahal usiaku sudah menginjak dua puluh tahun. Rasanya aku malu
pada diriku.
Dua Minggu yang lalu aku mengikuti
kegiatan IMPALA (Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam), aku tinggalkan Bunda
seorang diri dirumah. Bunda sudah terbiasa sendiri, semenjak kepergian
Ayah tujuh tahun yang lalu. Tapi aku merasa tak setia, karena tak bisa
selalu menemaninya setiap hari, aku malah lebih mementingkan kegiatanku
dari pada menemani Bunda dirumah. Selama dua hari aku tinggal di bumi
perkemahan bersama anggota dan teman-teman IMPALA. Dua hari saja rasanya
seperti satu minggu, aku tak mendengar nasehatnya, ketika menanyakan
apa kesibukanku hari ini, aku sudah makan atau belum. Perhatian bunda
yang selalu mengingatkanku. Ya begitu rindunya aku dengan dekapan hangat
dan lembut dari Bunda.
Aku tak bisa memberikan kabar untuk bunda,
karena didaerah hutan sangat sulit ditemukan signal yang bagus. Battery
handphoneku juga lowbet, aku hanya bisa berdo’a semoga Allah menjaga
bunda disana.
Dua hari pun berlalu.. Rasa rinduku
ingin sekali segera terobati, melihat senyum manis bunda, dan sapaan
lembut darinya, setiba dirumah aku bergegas masuk dan tak lupa
mengucapkan salam. Siang itu aneh rasanya, tak kudengar suara bunda yang
biasanya sudah terlintas ditelinga. Aku terus melangkah kearah kamar
bunda. Siapa tahu bunda sedang istirahat.
Creeekkkk….?? Ku buka pintu kamar bundaa. Kulihat yang ada hanya selimut dan bantal yang tertata rapi.
Aku
heran., karena tidak seperti biasanya bunda tak memberiku kabar.
Biasanya bunda selalu menuliskan note kecil saat-saat Ia pergi mendadak,
ataupun menitipkan pesan pada tetangga.
Mungkin bunda
pergi menghantarkan pesanan kue. Dugaanku. Sanking capeknya, aku
menutup kembali kamar bunda, lalu pergi istirahat sejenak untuk
menghilangkan rasa capek selama dua hari berpetualang, rasanya badanku
remuk.
Setengah jam kemudian aku temukan selembar kertas diatas
meja riasku. Ku buka perlahan kertas itu dari lipatannya. Ada tulisan
didalamnya. Kemudian aku pun membacanya.
Assalammu’alaikum dinda
Anak
bunda yang manis, yang tegar dan mandiri, juga yang selalu ingat pesan
bunda. Mungkin saat dinda membaca surat ini, bunda sudah tiada dirumah.
Bunda ingin segera menyusul ayahmu disurga.
Dindaa….usia
dinda sekarang semakin berkurang dan menginjak dua puluh tahun sudah.
Dinda semakin dewasa. Meskipun kita pernah hidup tanpa ayah, tapi bunda
bahagia, bisa membesarkan dinda serta membimbing dinda hingga dinda
sekarang bisa melanjutkan kuliah. Bunda sangat merindukan ayah. Bunda
ingin bertemu dengan ayah.
Usia bunda semakin tua nak,
bunda juga sudah mulai letih melakukan pekerjaan yang biasa bunda
lakukan setiap harinya. Bundai ingin istirahat. Bunda berharap dinda
bisa mandiri dari sebelumnya. Bunda yakin dinda bisa melakukannya tanpa
bunda. Menjalani hari-hari tanpa bunda. Bunda akan selalu do’akan yang
terbaik buat dinda. Maka…ingatlah pesan bunda selalu ya nak.:)
Jangan
pernah lupa dengan kewajiban kita sebagai seorang muslim, untuk
mendirikan sholat lima waktunya. Dindaaa?.... jadilah anak yang baik,
anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa serta bermanfaat untuk
orang-orang disekeliling.
Dinda, jangan telat makan ya
nak, jaga kesehatan supaya dinda tetap kuat dan bisa menjalani aktivitas
kuliah dengan baik. Jadilah anak bunda yang berkarya dan berguna untuk
siapapun. Bunda sangat yakin dinda pasti bisa melangkah lebih baik dari
hari ini. Masa depan sedang menanti dinda disana. Jangan putus asa dan
tetap semangat..
Jauhilah kesombongan hidup yang bisa
merusak jiwa dinda. Belajarlah dari apa yang pernah bunda ajarkan untuk
dinda. Bunda yang juga selalu ajarkan dinda agar tetap kuat dan tegar
seberat apapun cobaan menghadang. Yakin saja pada Allah, bahwa dalam
setiap kesulitan pasti ada keindahannya.
Dindaa?…simpan
pesan ini baik-baik ya nak. Hapuslah air mata dinda yang sudah membasahi
kertas ini. Jangan sesali apa yang belum bisa dinda perbuat untuk
bunda. Bunda sayang dinda. Bunda ikhlas dan tulus merawat dinda agar
menjadi anak yang sukses.
Semua kesalahan dinda sudah
bunda maafkan, setiap nasehat bunda yang dinda langgar. Setiap kata
bunda yang dinda bantah dan setiap permintaan yang dinda paksa, semuanya
sudah ikhlas bunda maafkan lahir dan bathin, karena bunda cinta dan
sayang pada dinda. Sekarang hanya dinda satu-satunya harta yang sangat
berharga dalam hidup bunda.
Di akhir kata ini, bunda
ingin melihat dinda tersenyum. Dengan senyum dinda, sudah cukup membuat
bunda bahagia disana. Kelak, dinda juga akan menjadi seperti apa yang
bunda rasakan. Menjadi seorang bunda. I love u dinda. Sampai ketemua
disana ya Nak.:) wassalammu’alaikum.
Aku pun tersentak dari tidurku. Serasa pulas dan nyenyak sekali. Tiba-tiba aku menjerit.
“Tidaaaaakkkk!!...bundaaaaaa!! jangan pergiii…bunda! Tungguuuuuu.”
Aku
terbangun mengelus dada seraya mengucap istighfar dan bergegas keluar
mencari bunda. Sesampai didepan pintu. Aku lega dan kembali tersenyum.
Ternyata aku mimpi. Ya. Aku hanya mimpi menerima pesan cinta dari bunda
lewat mimpi. Cerita bunda didalam mimpi itu membangunkan tidurku yang
sangat lelap.
“ Astaghfirullah, ya Allah ampunilah aku, maafkan
semua kesalahanku. Engkau beri bunga tidur untukku. Sehingga
menyadarkanku. Ya Rabb, jangan Kau ambil bunda sebelum aku mampu
membahagiakannya. Aku sangat menyayangi bunda”. Do’aku dalam hati sambil
melihat bunda yang sedang sibuk menyiram bunga di halaman.
Lalu kupeluk bunda dari belakang. Bunda terkejut tiba-tiba aku memeluknya dan mengatakan,
“Bunda,I
love u, dinda cinta bunda, dinda sayaaaaang banget sama bunda, jangan
tinggalin dinda yah bund……”. Ucapku sambil memeluk bunda
Kemudian
aku mencium pipi bunda, dan meminta maaf padanya atas semua kesalahanku
selama ini, yang mungkin membuat hati bunda terluka, tak kusadari air
mataku pun mengalir. Kutatap bunda dengan penuh kasih sayang. Mata bunda
juga berbinar menatapku. Bunda pun kembali memelukku dan menghapus air
mataku. Meskipun aku tahu, sore itu bunda tampak bingung apa yang sedang
aku lakukan padanya, tiba-tiba saja aku memanggil dan memeluknya.
Setelah
itu aku menceritakan soal mimpi yang ku dapatkan tadi. Bunda sangat
faham dengan ceritaku dalam mimpi itu. Kata bunda itu hanya bunga tidur.
Dan peringatan dari Allah agar aku menjadi yang lebih baik dari ini.
Aku
sadar selama ini sering bersikap kasar pada bunda, aku sering melanggar
nasehat-nasehatnya. Rasanya aku terlalu sering membuatnya kecewa dan
kesal. Meski begitu yang aku lakukan pada bunda, tapi bunda tetap sabar
menghadapiku. Aku ingin merubah diri dan belajar mandiri untuk
meringankan beban bunda selama ini. Aku ingin berubah menjadi lebih
baik. Pesan dalam mimpi itu ternyata membuatku sadar betapa sayangnya
bunda takkan pernah terbalas oleh apapun dan surga itu berada dibawah
telapak kaki seorang ibu.
“Bunda, maafin dinda yah…..dinda janji
akan merubah diri ini menjadi lebih baik lagi, tapi bunda juga janji
jangan tinggalin dinda ya…”
“ iya Nak, dinda kan mutiara hati bunda”……