Senin, 12 November 2012

Sajadah Cinta Suamiku

Malam ini adalah malam pertemuanku dengan calon suami pilihan Ayah. Lelaki tersebut dijamin bisa menghidupiku dengan harta wah yang dimilikinya. Ayah akan menjodohkanku dengan duda kaya raya seorang pengusaha dan pemilik salah satu hotel berbintang. Aku hanya bisa memohon petunjuk Allah semoga dengan keputusanku nanti aku bisa hidup bahagia bersama lelaki pilihan Ayah. Mungkin ini sudah menjadi suratan untukku. Sejak awal aku menjalin hubungan dengan Mas Habib, Ayah tak pernah merestui hubungan kami. Hanya karena Mas Habib seorang sarjana Pendidikan Agama Islam, seorang guru honor, dan anak rantauan yang juga tak begitu jelas tentang latar  belakang Mas Habib dan keluarganya.
Aku cukup mengenal Mas Habib yang sangat tulus mencintaiku. Mungkin harapan dan cita-cita kami untuk hidup bersama akan sirna. Aku tahu bahwa cinta memang tak harus memiliki. Tapi untuk mempertahankan perasaan ini begitu sulit. Sulit bagiku untuk melupakan perjalanan cintaku bersama Mas Habib yang kurang lebih sudah dua  tahun kami saling mengenal satu sama lain.
“ Aisyah!”. Panggil Ayah  dari depan ruang tamu. Aku hanya diam dikamar dan terus menangis serta memohon petunjuk pada Allah.
“ Aisyah!”. Panggil ayah lagi.
“ Iya Ayah,sebentar”. sahutku
Aku pun bergegas keluar menemui Ayah. Demi kebahagiaan Ayah, aku berusaha merelakan perasaanku untuk melepas Mas Habib. Tidak ada basa-basi keluarga malam itu. Ayah langsung menentukan tanggal pernikahanku dengan Mas Helmi. Aku terus menahan air mata dan berusaha memberi senyuman untuk Ayah. Karena aku tak ingin penyakit Asma Ayah kambuh. Aku tak lagi ingin kehilangan orang yang kusayangi setelah sepuluh tahun yang lalu aku harus menerima kenyataan bahwa Bunda  pergi untuk selama-lamanya.
Dan pagi ini adalah hari pernikahanku. Aku hanya mencurahkan segala perasaanku kepada Allah. Dengan mengucap Bismillah saat akad pernikahan berlangsung, air mataku menetes, dan tiba-tiba datang dua orang Polisi yang menghentikan suasana  pernikahan. Polisi tersebut menemui Mas Helmi dan memborgolnya serta membawanya pergi. Ternyata Mas Helmi adalah seorang buronan polisi sejak lima bulan yang lalu tercatat sebagai tersangka penggelapan uang dan menipu rekan kerjanya sendiri. Suasana saat itu menjadi tegang dan carut marut. Aku sangat bersyukur karna Allah memberi petunjuk untukku. Aku menangis dipelukan Ayah. Ayah  meminta maaf padaku dan akhirnya Ia pun merestui hubunganku dengan Mas Habib.
Kebetulan sekali Mas Habib hadir saat pernikahanku akan berlangsung. Ayah pun mempersilahkan Mas Habib sebagai calon mempelai pria dan segera melaksanakan Ijab Qabul pernikahan pada hari itu juga. Ayah pun bahagia melihatku tersenyum dengan Ikhlas. Aku menangis saat akan mencium dan memeluk Mas Habib yang sudah sah menjadi suamiku. Aku bersyukur dengan Anugrah terindah ini. Aku berharap semoga aku dan Mas Habib bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Setelah sekian lama menunggu Alhamdulillah Allah menitipkan janin didalam perutku, yang akan menjadi bayi dalam waktu sembilan bulan. Penantian yang cukup panjang bagi kami. Ini adalah Anugrah yang terindah. Aku yang lemah fisik ternyata masih diberi kepercayaan oleh Nya untuk merawat janin dalam perutku agar terlahir  sehat nantinya.
“ Assalammu’alaikum, Aisyah”. Ucap Mas Habib
“ Wa’alaikumsalam  Mas, sudah pulang ya??”. Sembari kusalami Mas Habib yang baru pulang kerja dan kubawakan tasnya kedalam kamar serta mempersiapkan handuk untuknya.
“ Iya Aisyahku, rasanya Mas ingin cepat ketemu kamu, bawaannya kangeeeen terus, apalagi sekarang kamu sedang mengandug anak kita”. Gombal Mas Habib sebagai suami yang romantis.
“ Ya Ampun Mas ada-ada saja, kita kan sudah suami istri, setiap hari jumpa, seperti masih pacaran saja”. Jawabku meledek Mas Habib.
Setelah mandi, aku menyiapkan teh hangat untuk Mas Habib.
        “ Ini tehnya Mas, mumpung masih hangat”.
        “ Makasih ya sayang, rasa teh ini enak dan manis seperti yang membuatnya”. Gombalnya lagi
        “ hehehe, Mas  bisa saja, memang deh mas adalah suami  yang paling romantis dan supergombal”. Jawabku sambil tertawa ngeledek.
        Adzan yang berkumandang sore itu, mengakhiri perbincangan kami untuk segera melaksanakan sholat berjama’ah dirumah. Seperti itulah keadaan kami setiap harinya. Hidup penuh kesederhanaan dan mendalami syari’at Islam tentang kedamaian sebuah keluarga. Mas Habib yang kukenal sejak dulu, memang begitulah adanya. Ia berusaha membuatku tersenyum dan tertawa dengan candaan dan tawanya yang tak pernah lepas dari ajaran Islam. Mas Habib memiliki prinsip untuk bisa menjadi seorang suami yang membimbing istri serta menjadi sahabat saat duka dan bahagia mengarungi kehidupan rumah tangga kami. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti Mas Habib.
        Semakin lama perutku tampak semakin besar. Aku sudah tak sabar menunggu lahirnya sibuah hati. Mas Habib tak pernah lupa untuk selalu melantunkan sholawat di setiap malam. Ia mengelus-elus perutku seraya memberikan do’a untuk sang buah hati agar lahir dengan sehat dan selamat. Ia berharap kelak putra atau putrinya lahir menjadi seorang anak yang  sholeh dan sholehah dan berguna untuk bangsa, Negara dan Agama serta berbakti kepada kedua orangtuanya. Tinggal menghitung hari saja tak sabar menunggu kelahiran sang bayi. Malam itu aku dan Mas Habib terus bercengkrama membahas saat-saat kelahiran sang bayi sebentar lagi tiba. Ntah mengapa malam itu rasanya penuh keharmonisan diantara kami menanti sang bayi. Hingga tak disadari waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 subuh. Dan tepat jam 03.30 dini hari itu usiaku genap 24 tahun, delapan bulan lebih sudah usia kandunganku dan dua tahun sudah usia pernikahanku dengan Mas Habib. Aku pun bergegas menyiapkan perlengkapan untuk sholat berjama’ah. Perasaanku pagi ini begitu bahagia. Beberapa hari lagi aku akan menjadi seorang Ibu.
        “ Sayangku, selamat hari kelahiran ya, maaf bila selama ini kamu masih belum bahagia hidup bersama mas, mas harap kamu tetap menjadi Aisyah dan istri yang solehah untuk keluarga kecil kita”. Ucapnya padaku selagi menunggu azan subuh.
        “ Iya Mas terima kasih untuk ucapannya, Aisyah bahagia kok bisa menjadi istri buat Mas, Mas  adalah Imam yang bertanggung jawab dengan keluarga, yang selalu membimbing Aisyah”. Jawabku sambil memeluknya.

        Dan ntah kenapa air mataku tiba-tiba menetes seakan tak ingin jauh dari Mas Habib dan ingin terus berada disampingnya selamanya. Adzan subuh berkumandang, kami pun segera melaksanakan subuh berjama’ah. Saat akan menyelesaikan raka’at kedua, hingga hampir lima menit, Mas Habib tak juga bangkit dari sujudnya. Kutunggu beberapa menit lagi, Mas Habib tak juga bangkit dari sujudnya, lalu aku menyelesaikan sendiri tasyahud terakhirku sembari salam. Mas Habib yang hanya diam saat sujud terakhir itu. Kulihat Ia tetap bersujud dan tak juga terdengar suara-suara bacaan sujudnya.
        “ Ya Rabb ada apa ini?”. fikirku. Aku panik dan bingung. Ku panggil Mas Habib berulang kali. Tapi Ia hanya diam. Lalu kucoba untuk mendekatinya mungkin saja Ia masih khusyuk bersujud dan berdo’a.
        “ Mas, Mas, Mas Habib kenapa,? bangun Mas, ada apa Mas?”.
        Panggilanku tak juga dijawab olehnya. Aku pun mendekat dan semakin mendekat, Mas Habib tampak begitu kaku. Lalu kubalikkan saja wajahnya dari sujud itu, dan ternyata nafas Mas Habib tlah terhenti…………..Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
        Aku berteriak histeris melihat Mas Habib. Ia pun kupeluk dan berusaha untuk membangunkannya kembali. Tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tiada. Allah telah memanggilnya kembali.
        “Mas? Mas Habiiiiiiiiiib????, bangun Mas, jangan pergi, jangan tinggalin Aisyah sendiri, lalu bagaimana dengan anak kita Mas, bangun Mas, jangan ting….nggall…llin Aisyah Mas”. Aku lemas dan tak berdaya melihat semua ini. Aku tak percaya menyaksikan ini didepan mataku. Orang yang aku sayangi dan cintai kini tlah tiada.
        “ Ya Allah, begitu beratkah ujianMu ini, aku masih mengandung seorang bayi dalam perutku yang nantinya sangat membutuhkan seorang ayah. Bagaimana hidupku nanti bila tanpa suami dan bagaimana anak ini nanti bila tanpa Ayah, ya Allah ya Raaaabbbb, kenapa semua ini terjadi padaku”.
        Aku bergegas memberitahu pada Ayah, dan seketika itu ayah datang menemuiku. Aku pun memeluk Ayah, aku tak sanggup dan terus menangis melihat jenazah Mas Habib. Indahnya rumah tangga baru saja kulalui. Kini duka tlah menimpaku. Aku tak percaya Mas Habib akan pergi meninggalkanku secepat ini. Tepat dihari ulang tahunku Mas Habib pergi meninggalkanku dengan hadiah terindah yang pernah dijanjikannya untukku. Seperangkat alat sholat berupa mukenah beserta sajadah hijau yang kusediakan untuk dipakainya sholat, ternyata Ia pergi dengan khusnul khotimah diatas sajadah pemberiannya. Sajadah yang menjadi saksi cinta kami sehidup semati, aku berjanji akan merawat dan menjaga anakku sebagaimana pesan Mas Habib malam itu. Aku berharap bisa bertemu kembali dengan Mas Habib diakhirat kelak.
        Ayah berusaha menenangkanku untuk beristighfar menerima semua ini. Bahwa ini adalah takdir dan suratan. Tiada yang tahu sekalipun kapan ajal akan menjemput. Aku harus Ikhlas dan berusaha bangkit untuk hidup kembali demi anakku nanti.
“ Ya Allah, izinkan aku mendidik, menjaga serta membahagiakan anakku untuk menjadi anak yang soleh dan soleha, Ikhlaskan aku  untuk melepas kepergian suamiku tercinta agar Ia nyaman dan damai berada disisi Mu”.

 Selamat jalan suamiku. Aku selalu mencintai dan merindukanmu. Aku hanya bisa mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah cinta. Tanpa bisa aku bendung, airmata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah yang pernah Allah berikan padaku dalam bentuk dirimu, meski hanya sejenak aku merasakan kebahagiaan itu…
Duhai Suamiku...aku cinta kamu
selamat jalan

Tidak ada komentar: