Sajadah Cinta Suamiku
Malam ini adalah malam pertemuanku dengan calon suami pilihan Ayah.
Lelaki tersebut dijamin bisa menghidupiku dengan harta wah yang
dimilikinya. Ayah akan menjodohkanku dengan duda kaya raya seorang
pengusaha dan pemilik salah satu hotel berbintang. Aku hanya bisa
memohon petunjuk Allah semoga dengan keputusanku nanti aku bisa hidup
bahagia bersama lelaki pilihan Ayah. Mungkin ini sudah menjadi suratan
untukku. Sejak awal aku menjalin hubungan dengan Mas Habib, Ayah tak
pernah merestui hubungan kami. Hanya karena Mas Habib seorang sarjana
Pendidikan Agama Islam, seorang guru honor, dan anak rantauan yang juga
tak begitu jelas tentang latar belakang Mas Habib dan keluarganya.
Aku
cukup mengenal Mas Habib yang sangat tulus mencintaiku. Mungkin harapan
dan cita-cita kami untuk hidup bersama akan sirna. Aku tahu bahwa cinta
memang tak harus memiliki. Tapi untuk mempertahankan perasaan ini
begitu sulit. Sulit bagiku untuk melupakan perjalanan cintaku bersama
Mas Habib yang kurang lebih sudah dua tahun kami saling mengenal satu
sama lain.
“ Aisyah!”. Panggil Ayah dari depan ruang tamu. Aku hanya diam dikamar dan terus menangis serta memohon petunjuk pada Allah.
“ Aisyah!”. Panggil ayah lagi.
“ Iya Ayah,sebentar”. sahutku
Aku
pun bergegas keluar menemui Ayah. Demi kebahagiaan Ayah, aku berusaha
merelakan perasaanku untuk melepas Mas Habib. Tidak ada basa-basi
keluarga malam itu. Ayah langsung menentukan tanggal pernikahanku dengan
Mas Helmi. Aku terus menahan air mata dan berusaha memberi senyuman
untuk Ayah. Karena aku tak ingin penyakit Asma Ayah kambuh. Aku tak lagi
ingin kehilangan orang yang kusayangi setelah sepuluh tahun yang lalu
aku harus menerima kenyataan bahwa Bunda pergi untuk selama-lamanya.
Dan
pagi ini adalah hari pernikahanku. Aku hanya mencurahkan segala
perasaanku kepada Allah. Dengan mengucap Bismillah saat akad pernikahan
berlangsung, air mataku menetes, dan tiba-tiba datang dua orang Polisi
yang menghentikan suasana pernikahan. Polisi tersebut menemui Mas Helmi
dan memborgolnya serta membawanya pergi. Ternyata Mas Helmi adalah
seorang buronan polisi sejak lima bulan yang lalu tercatat sebagai
tersangka penggelapan uang dan menipu rekan kerjanya sendiri. Suasana
saat itu menjadi tegang dan carut marut. Aku sangat bersyukur karna
Allah memberi petunjuk untukku. Aku menangis dipelukan Ayah. Ayah
meminta maaf padaku dan akhirnya Ia pun merestui hubunganku dengan Mas
Habib.
Kebetulan sekali Mas Habib hadir saat pernikahanku akan
berlangsung. Ayah pun mempersilahkan Mas Habib sebagai calon mempelai
pria dan segera melaksanakan Ijab Qabul pernikahan pada hari itu juga.
Ayah pun bahagia melihatku tersenyum dengan Ikhlas. Aku menangis saat
akan mencium dan memeluk Mas Habib yang sudah sah menjadi suamiku. Aku
bersyukur dengan Anugrah terindah ini. Aku berharap semoga aku dan Mas
Habib bisa membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warrohmah.
Setelah
sekian lama menunggu Alhamdulillah Allah menitipkan janin didalam
perutku, yang akan menjadi bayi dalam waktu sembilan bulan. Penantian
yang cukup panjang bagi kami. Ini adalah Anugrah yang terindah. Aku yang
lemah fisik ternyata masih diberi kepercayaan oleh Nya untuk merawat
janin dalam perutku agar terlahir sehat nantinya.
“ Assalammu’alaikum, Aisyah”. Ucap Mas Habib
“
Wa’alaikumsalam Mas, sudah pulang ya??”. Sembari kusalami Mas Habib
yang baru pulang kerja dan kubawakan tasnya kedalam kamar serta
mempersiapkan handuk untuknya.
“ Iya Aisyahku, rasanya Mas ingin
cepat ketemu kamu, bawaannya kangeeeen terus, apalagi sekarang kamu
sedang mengandug anak kita”. Gombal Mas Habib sebagai suami yang
romantis.
“ Ya Ampun Mas ada-ada saja, kita kan sudah suami istri,
setiap hari jumpa, seperti masih pacaran saja”. Jawabku meledek Mas
Habib.
Setelah mandi, aku menyiapkan teh hangat untuk Mas Habib.
“ Ini tehnya Mas, mumpung masih hangat”.
“ Makasih ya sayang, rasa teh ini enak dan manis seperti yang membuatnya”. Gombalnya lagi
“ hehehe, Mas bisa saja, memang deh mas adalah suami yang paling
romantis dan supergombal”. Jawabku sambil tertawa ngeledek.
Adzan yang berkumandang sore itu, mengakhiri perbincangan kami untuk
segera melaksanakan sholat berjama’ah dirumah. Seperti itulah keadaan
kami setiap harinya. Hidup penuh kesederhanaan dan mendalami syari’at
Islam tentang kedamaian sebuah keluarga. Mas Habib yang kukenal sejak
dulu, memang begitulah adanya. Ia berusaha membuatku tersenyum dan
tertawa dengan candaan dan tawanya yang tak pernah lepas dari ajaran
Islam. Mas Habib memiliki prinsip untuk bisa menjadi seorang suami yang
membimbing istri serta menjadi sahabat saat duka dan bahagia mengarungi
kehidupan rumah tangga kami. Aku sangat bersyukur memiliki suami seperti
Mas Habib.
Semakin lama perutku tampak semakin besar. Aku
sudah tak sabar menunggu lahirnya sibuah hati. Mas Habib tak pernah
lupa untuk selalu melantunkan sholawat di setiap malam. Ia mengelus-elus
perutku seraya memberikan do’a untuk sang buah hati agar lahir dengan
sehat dan selamat. Ia berharap kelak putra atau putrinya lahir menjadi
seorang anak yang sholeh dan sholehah dan berguna untuk bangsa, Negara
dan Agama serta berbakti kepada kedua orangtuanya. Tinggal menghitung
hari saja tak sabar menunggu kelahiran sang bayi. Malam itu aku dan Mas
Habib terus bercengkrama membahas saat-saat kelahiran sang bayi sebentar
lagi tiba. Ntah mengapa malam itu rasanya penuh keharmonisan diantara
kami menanti sang bayi. Hingga tak disadari waktu sudah menunjukkan
pukul 04.00 subuh. Dan tepat jam 03.30 dini hari itu usiaku genap 24
tahun, delapan bulan lebih sudah usia kandunganku dan dua tahun sudah
usia pernikahanku dengan Mas Habib. Aku pun bergegas menyiapkan
perlengkapan untuk sholat berjama’ah. Perasaanku pagi ini begitu
bahagia. Beberapa hari lagi aku akan menjadi seorang Ibu.
“
Sayangku, selamat hari kelahiran ya, maaf bila selama ini kamu masih
belum bahagia hidup bersama mas, mas harap kamu tetap menjadi Aisyah dan
istri yang solehah untuk keluarga kecil kita”. Ucapnya padaku selagi
menunggu azan subuh.
“ Iya Mas terima kasih untuk
ucapannya, Aisyah bahagia kok bisa menjadi istri buat Mas, Mas adalah
Imam yang bertanggung jawab dengan keluarga, yang selalu membimbing
Aisyah”. Jawabku sambil memeluknya.
Dan ntah
kenapa air mataku tiba-tiba menetes seakan tak ingin jauh dari Mas Habib
dan ingin terus berada disampingnya selamanya. Adzan subuh
berkumandang, kami pun segera melaksanakan subuh berjama’ah. Saat akan
menyelesaikan raka’at kedua, hingga hampir lima menit, Mas Habib tak
juga bangkit dari sujudnya. Kutunggu beberapa menit lagi, Mas Habib tak
juga bangkit dari sujudnya, lalu aku menyelesaikan sendiri tasyahud
terakhirku sembari salam. Mas Habib yang hanya diam saat sujud terakhir
itu. Kulihat Ia tetap bersujud dan tak juga terdengar suara-suara bacaan
sujudnya.
“ Ya Rabb ada apa ini?”. fikirku. Aku panik dan
bingung. Ku panggil Mas Habib berulang kali. Tapi Ia hanya diam. Lalu
kucoba untuk mendekatinya mungkin saja Ia masih khusyuk bersujud dan
berdo’a.
“ Mas, Mas, Mas Habib kenapa,? bangun Mas, ada apa Mas?”.
Panggilanku tak juga dijawab olehnya. Aku pun mendekat dan semakin
mendekat, Mas Habib tampak begitu kaku. Lalu kubalikkan saja wajahnya
dari sujud itu, dan ternyata nafas Mas Habib tlah terhenti…………..Inna
Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Aku berteriak histeris
melihat Mas Habib. Ia pun kupeluk dan berusaha untuk membangunkannya
kembali. Tapi itu tidak mungkin. Ia sudah tiada. Allah telah
memanggilnya kembali.
“Mas? Mas Habiiiiiiiiiib????, bangun
Mas, jangan pergi, jangan tinggalin Aisyah sendiri, lalu bagaimana
dengan anak kita Mas, bangun Mas, jangan ting….nggall…llin Aisyah Mas”.
Aku lemas dan tak berdaya melihat semua ini. Aku tak percaya menyaksikan
ini didepan mataku. Orang yang aku sayangi dan cintai kini tlah tiada.
“ Ya Allah, begitu beratkah ujianMu ini, aku masih mengandung seorang
bayi dalam perutku yang nantinya sangat membutuhkan seorang ayah.
Bagaimana hidupku nanti bila tanpa suami dan bagaimana anak ini nanti
bila tanpa Ayah, ya Allah ya Raaaabbbb, kenapa semua ini terjadi
padaku”.
Aku bergegas memberitahu pada Ayah, dan seketika
itu ayah datang menemuiku. Aku pun memeluk Ayah, aku tak sanggup dan
terus menangis melihat jenazah Mas Habib. Indahnya rumah tangga baru
saja kulalui. Kini duka tlah menimpaku. Aku tak percaya Mas Habib akan
pergi meninggalkanku secepat ini. Tepat dihari ulang tahunku Mas Habib
pergi meninggalkanku dengan hadiah terindah yang pernah dijanjikannya
untukku. Seperangkat alat sholat berupa mukenah beserta sajadah hijau
yang kusediakan untuk dipakainya sholat, ternyata Ia pergi dengan
khusnul khotimah diatas sajadah pemberiannya. Sajadah yang menjadi saksi
cinta kami sehidup semati, aku berjanji akan merawat dan menjaga anakku
sebagaimana pesan Mas Habib malam itu. Aku berharap bisa bertemu
kembali dengan Mas Habib diakhirat kelak.
Ayah berusaha
menenangkanku untuk beristighfar menerima semua ini. Bahwa ini adalah
takdir dan suratan. Tiada yang tahu sekalipun kapan ajal akan menjemput.
Aku harus Ikhlas dan berusaha bangkit untuk hidup kembali demi anakku
nanti.
“ Ya Allah, izinkan aku mendidik, menjaga serta
membahagiakan anakku untuk menjadi anak yang soleh dan soleha, Ikhlaskan
aku untuk melepas kepergian suamiku tercinta agar Ia nyaman dan damai
berada disisi Mu”.
Selamat jalan
suamiku. Aku selalu mencintai dan merindukanmu. Aku hanya bisa
mengikutimu, bersujud di atas hamparan sajadah cinta. Tanpa bisa aku
bendung, airmata ini tiada hentinya mengalir karena mensyukuri anugerah
yang pernah Allah berikan padaku dalam bentuk dirimu, meski hanya
sejenak aku merasakan kebahagiaan itu…
Duhai Suamiku...aku cinta kamu
selamat jalan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar