Rum Mutiara Hidupku
Bacalah !!! agar tahu arti kesetiaanBertemu dalam sebuah pengajian, jumpa pandangan pertama, memikat hati satu sama lain, tanpa cerita yang panjang, Amri lekas meminang bidadari syurga yang hadir di depan mata. Allah pun meRidhoi niat baiknya.
Sampai pada hidup bersama dalam bahtera rumah tangga. Sebagaimana dua insan telah disatukan dalam satu jiwa, sama-sama bertaqwa, melaksanakan ibadah bersama, layaknya suami – isteri.
Saling memahami, mendo’akan dan mensupport satu sama lain.
Amri adalah seorang pengusaha terkenal. impiannya sudah terwujud. Ia pun sudah membiayai kedua orang tuanya pergi haji hingga kini sudah tiada, dan menjadi seorang yatim piatu. Amri merasa lega, meskipun tak terbayarkan pengorbanan kedua orang tuanya tersebut, tetapi,kesuksesannya kini menjadi kebanggan untuk dirinya, isteri dan keluarganya.
Dua tahun memasuki masa pernikahannnya, Amri dan Rum belum juga dikaruniai seorang anak. Amri tetap bersabar, berdo’a dan terus berusaha. Tetap saling setia dengan komitmen pernikahan apapun yang terjadi.
“ maaf Mas, kenapa mas tidak menikah lagi saja, saya tidak bisa memberi mas keturunan, ini sudah lima tahun usia pernikahan kita, berbagai cara sudah kita coba, namun hasilnya nihil, saya ikhlas jika mas berniat menikah lagi”
Mas Amri melayangkan kedua jarinya di depan bibirku,
“ husstt… Kenapa berbicara seperti itu dik ?, bagi mas, menikah adalah komitmen, mas punya tanggung jawab di sini, teruslah berdo’a dan berusaha agar kita segera dikarunia anak”.
“ maaf ya mas ?”.
Aku tunduk, tersipu malu dan terharu mendengar ucapan mas Amri.
Dan pada akhirnya, hingga memasuki lima tahun usia pernikahan mereka. Jika Allah sudah berkehendak, “ kun fayakun”. Inilah anugrah itu.
Allah mengkaruniai tiga bayi kembar sekaligus. Bernama Fakhri, Zulfa dan Zihand. Dengan sangat bersyukur mereka mendidik dan merawat ketiga anak mereka.
Ketika ketiganya memasuki lima tahun usia pertumbuhannya. Rum mendadak sakit. Berbagai pengobatan sudah dilalui. Sepuluh bulan sudah kesana-kemari Rum tidak juga sembuh. Hingga pada akhirnya Ia di vonis penyakit “ struck”.
Rum tidak lagi mampu merawat ketiga anaknya. Sebagai suami yang baik, dan bertanggung jawab, Amri rela membagi waktunya. Untuk pekerjaan, anak-anak dan isterinya. Untung saja amri menjabat sebagai pemilik perusahaan percetakan. Sehingga ia bisa mengatur waktu. Setiap jam istirahat, ia kembali pulang untuk menyuapi Rum makan siang, dan sepulang kerja ia pun melanjutkan merawat Rum, hingga membersihkan seluruh tubuhnya. Sampai tiba malam hari Amri masih tetap menemani Rum dengan setianya,merayu dan mengajaknya bercanda meski tidak ada balasan sama sekali dari Rum, tapi Amri merasakan kenyamanan tersebut berada di samping Rum. Bercanda bersama bersama isteri tercinta. Meskipun Rum tidak bisa berkata dan bergerak, tetapi Rum masih memiliki jiwa yang mampu merespon hatinya. Hanya dengan bahasa hati Rum bisa merasakan semua itu.
Hingga usia ketiga anaknya beranjak dewasa. 24 tahun sudah. Mereka semua sudah menikah dan berumah tangga. Dan hidup bersama suami mereka masing-masing. Amri masih tetap sama. Masih tetap mendidik ketiga anaknya sebagai seorang ayah yang bijaksana. Dan menjadi seorang suami yang bertanggung jawab. Meskipun ketiga anaknya sudah berumah tangga.
Tak pernah sedikitpun amri merasa berkeluh kesah dan berputus asa hingga detik ini ia masih setia bersama pujaan hati dan mutiara hidupnya. Rum bidadari syurganya.
Ketiga anaknya pernah memohon pada Amri, agar mereka saja yang merawat Bunda. Namun Amri menolak dengan tegasnya. Ia lebih memilih bersama dirumah dengan Rum, dan meminta anak-anaknya untuk hidup bahagia bersama suami mereka tanpa harus merawat Bundanya.
“ Yah, bukankah kami sudah mengizinkan ayah untuk menikah lagi ?”. ucap Putra Sulung Fakhri
“ Iya, ayah !, Zihand rasa, bunda juga pasti merestui ayah untuk menikah lagi”
“ terus kapan ayah akan menikmati masa tua ayah, jika harus merawat Bunda seperti ini, biarkan saja kami yang merawat bunda”. Ucap Zulfa
“ betapa ayah sangat mencintai Bunda kalian, bagaimana mungkin ayah bisa menikah lagi, diurus dengan seorang istri yang sihat, sementara ayah membiarkan Bunda dalam keadaan seperti ini, Nak ?, ayah berperan sebagai seorang suami sekaligus ayah dan ibu sejak Bunda struk, ayah punya komitmen saat menikahi Bunda, apapun yang terjadi, tetap bertahan, jika pernikahan di dunia ini hanya karena adanya nafsu saja, serta mengagungkan cinta tanpa mampu memberi waktu, kasih sayang dan pengorbanan, mungkin ayah sudah menikah lagi. Ayah tidak mau semua itu hanya sia-sia. Dengan kehadiran dan kebersamaan ayah dan bunda, sudah lebih dari cukup. Bunda telah memberi ayah anak-anak yang pintar, merawat ayah sejak dahulu. Dan banyak sudah pengorbanan bunda. Jadi tidakkah salah bila ayah ingin membalas semua itu, nak ?”…
Seketika itu pula air mata Rum menitis. Rum merasakan ketulusan cinta yang diberikan Amri kepadanya.meskipun ia tak mampu menjawab, tapi Rum masih bisa mendengar. Betapa Ia sangat bersyukur mendengar ucapan Amri.
“ karna hidup, bukan cuma hidup nak, banyak tantangan, tugas dan rintangan yang harus kita selesaikan. Menikah itu harus siap jasmani dan rohani, bagaimana mungkin kita berdamai dengan setiap persoalan, jika kita tidak siap”.
Fakhri, Zulfa dan Zihand pun tertunduk menitiskan air mata. Betapa mereka sangat bangga memiliki seorang ayah seperti Amri. Ayah yang bertanggung jawab, setia dan bijaksana.
“ maaf yah, kami hanya ingin melihat ayah bahagia, mungkin ucapan kami memang salah, ayah mengajarkan kami tentang kesetiaan dan ketulusan mencintai”. Ucap Fakhri.
“ begitulah membina dan membangun rumah tangga nak, senang dan susah tetap bersama, terus do’akan bunda agar lekas diberi kesembuhan oleh Allah suatu hari nanti”.
Mereka pun sangat mengerti dan memahami akan nasihat dari ayah mereka, dan akhirnya mereka tinggal bersama keluarga masing-masing. Dan tetap menjenguk ayah dan bunda setiap kali ada waktu luang, saat hari libur tiba.
Amri tetap bertahan sejak 20 tahun lamanya, merawat Rum dengan penuh keikhlasan, ketulusan dan tidak pernah mengeluh. Karena kesetiaan dengan ketulusan itu sudah mengalir dalam sukma jiwa.
“ Dan berkorbanlah, berjuanglah ! dengan kesetiaanmu, karena kesetiaan adalah cinta dengan penuh ketulusan yang mengalir dengan kemurnian hati dan kelembutan jiwa untuk bertahan dalam komitmen, apapun yang terjadi “ < AHV>
Tidak ada komentar:
Posting Komentar